LINGKARWILIS.COM – Dibalik nama Soekarno, sang proklamator Republik Indonesia tersimpan kisah kecil yang tak banyak diketahui.
Salah satunya cerita tentang Soekarno seorang bocah lemah yang nyaris tak selamat di masa kecilnya dan pergulatan keluarga untuk menyelamatkannya lewat perubahan nama.
Cerita itu mengemuka kembali dalam wawancara khusus bersama Raden Mas Kuswartono, kerabat keluarga besar Soekarno atau Bung Karno sekaligus pembina Situs Persada Soekarno di Kediri.
Dalam obrolan hangat yang berlangsung di sebuah kafe berkonsep tradisional, Omah Cangkrok Sehat Tentrem, Jalan Jakgung Suprapto No.11, Kepanjen, Kabupaten Jombang pada Kamis (3/7),
Warga Nganjuk Harapkan Soekarno Run Digelar Kembali Tahun Depan, Bupati Marhaen Janjikan Hal Ini
Kuswartono membuka lembaran sejarah keluarga Soekarno dengan penuh keyakinan, membeberkan Bung Karno lahir dengan nama Koesno Sosrodihardjo.
Bung Karno lahir pada 6 Juni 1902, dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Namun tubuh kecil Koesno tak sekuat semangat yang kelak tumbuh dalam dirinya. Ia sering sakit dan kondisi itu membuat orang tuanya gelisah.
Harapan muncul ketika sang ayah yang kala itu bertugas di Ploso, Jombang mendengar kabar tentang Den Mas Mendung seorang pintar yang masih memiliki hubungan kerabat.
Dari pertemuan itulah disarankan agar nama Koesno diganti. Dalam tradisi Jawa, nama bukan sekadar identitas ia bisa berpengaruh pada kesehatan dan keberuntungan.
Akhirnya nama Koesno pun diubah menjadi Soekarno sebuah nama yang membawa harapan akan kesehatan dan kekuatan.
Meski ide penggantian lahir di Ploso, prosesnya dilakukan di Wates, Kediri di rumah keluarga yang kini menjadi Ndalem Pojok.
Di sinilah Soekarno kecil tumbuh sehat, dia diasuh oleh Raden Mas Panji Soemosewojo seorang tokoh keturunan bangsawan yang diyakini menanamkan kedisiplinan dan semangat dalam diri Soekarno.
Dari halaman rumah yang rindang, di bawah pohon beringin dan dalam gua kecil, Koesno kecil mulai melatih suara dan keberaniannya, konon sejak usia belia ia sudah fasih berorasi.
Mengenai tempat kelahiran Bung Karno, Kuswartono tak ingin bersikap absolut. Ia sadar, sejarah mencatat Blitar sebagai kota kelahiran resmi.
Tapi kisah tutur dari keluarga besar masih menyebut Ploso sebagai tempat kelahiran yang sebenarnya, bahkan menyebut kemungkinan Surabaya.
“Di balik sakitnya Koesno kecil, ada upaya keluarga, ada nama yang diganti, dan ada tempat yang memberi harapan baru dari Ploso ke Wates, dari Koesno menjadi Soekarno,” kata Kuswartono menutup perbincangan dengan penuh makna.***
Reporter: Agung Pamungkas
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya





