Kue Plemben Warisan Buyut Asal Jombang Tetap Diburu hingga Kalimantan

Di Tengah Gempuran Jajanan Modern, Kue Plemben Warisan Buyut Asal Jombang Tetap Diburu hingga Kalimantan
Setyaningsih dan anaknya Rahma, perajin kue tradisional asal Desa Ngampungan, Bareng, Jombang yang kini masih hadir di era modern sekarang ini. (Istimewa)

Jombang, LINGKARWILIS.COM – Di tengah menjamurnya jajanan modern dengan berbagai inovasi dan kemasan kekinian, kue tradisional masih mampu bertahan dan memiliki pasar tersendiri. Hal itu dibuktikan oleh Setyaningsih, perajin kue tradisional asal Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, yang tetap setia mempertahankan resep warisan keluarganya.

Dari dapur sederhana miliknya, Setyaningsih bersama keluarga memproduksi berbagai kue tradisional, seperti plemben dan mawaran. Resep yang digunakan merupakan peninggalan turun-temurun dari buyut, kemudian diwariskan kepada ibunya, hingga kini diteruskan olehnya.

“Kue tradisional ini resepnya turun-temurun dari keluarga. Lokasi produksinya berada di Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, tidak jauh dari kawasan wisata Pemandian Pandansili,” ujar Setyaningsih saat ditemui di rumah produksinya, Sabtu (4/7/2026).

Baca juga :Β Nenek Penjual Sayur Keliling Terancam Kehilangan Sertifikat Tanah, Kasus Pinjaman di Bank Jombang Jadi Sorotan

Memasuki Bulan Suro, permintaan terhadap kue tradisional buatannya meningkat cukup signifikan. Kue-kue tersebut banyak dipesan masyarakat untuk kebutuhan sedekah desa, kenduri, hingga berbagai tradisi adat yang masih rutin dilaksanakan.

“Rata-rata kue ini dipesan untuk kegiatan atau hajatan seperti sedekah desa,” katanya.

Bagi Setyaningsih, usaha yang dijalankannya bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan juga menjaga amanat keluarga agar kuliner tradisional tetap lestari.

“Kalau sejak kapan persisnya saya kurang tahu. Yang jelas usaha ini sudah ada sejak zaman buyut, kemudian diteruskan ibu, dan sekarang saya yang melanjutkan,” tuturnya.

Dalam satu bulan, ia menghabiskan sekitar 50 kilogram tepung terigu sebagai bahan baku utama. Jumlah tersebut bisa meningkat tajam saat permintaan melonjak, terutama menjelang hari raya maupun musim sedekah desa.

Pasarnya pun tidak hanya berada di wilayah Kecamatan Bareng dan Mojowarno. Produk buatannya telah dipasarkan ke berbagai daerah di Kabupaten Jombang, Wonosalam, Kota Malang, bahkan hingga Kalimantan.

“Bahkan pernah ada pembeli dari Malang yang membawa kue ini sebagai oleh-oleh haji,” ungkapnya.

Baca juga :Β Pemkab Kediri Perkuat Pengelolaan Aduan SP4N-LAPOR, Puskesmas Diminta Lebih Responsif Layani Masyarakat

Menurutnya, salah satu keunggulan kue plemben buatannya terletak pada teksturnya yang lembut dengan cita rasa manis khas, sehingga tetap disukai berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua.

Meski harga bahan baku terus mengalami perubahan, Setyaningsih berusaha mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau bagi masyarakat.

Untuk satuan, kue dijual mulai Rp2.000 per buah. Sementara plemben kemasan dipasarkan seharga sekitar Rp17.000 per bungkus, kemasan besar Rp25.000, dan pembelian satu kilogram dibanderol Rp60.000.

Di tengah ketatnya persaingan industri kuliner modern, Setyaningsih berharap warisan kuliner tradisional tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

“Selama resep kue tradisional ini masih kami miliki, kami ingin terus meneruskannya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal di era modern,” pungkasnya.***

Reporter: Taufiqur Rachman
Editor: Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *