TULUNGAGUNG, LINGKARWILIS.COM – Memasuki musim penghujan awal 2026, sejumlah petani di Tulungagung mulai menanam bawang merah lebih awal. Tercatat sekitar 16 hektare lahan telah memasuki masa tanam, meski komoditas hortikultura tersebut dikenal rentan terhadap curah hujan tinggi.
Kepala Bidang Penyediaan dan Pengembangan Sarana Pertanian, Dinas Pertanian Tulungagung, Muchamad Mahmudi, mengatakan masa tanam telah berlangsung sejak Januari 2026. Langkah tersebut dinilai cukup berani karena umumnya petani bawang merah di Tulungagung baru mulai tanam pada Mei atau setelah musim hujan berakhir.
“Sejak Januari hingga sekarang ada petani yang sudah mulai tanam. Biasanya mereka menunggu sampai musim hujan reda untuk menghindari risiko gagal panen,” ujar Mahmudi, Rabu (25/2/2026).
Baca juga : Perawatan Jembatan Alun-Alun Kota Kediri, PT Baraseva Target Rampung Akhir Bulan
Ia merinci, total 16 hektare lahan yang telah ditanami tersebar di enam kecamatan, yakni Sumbergempol, Rejotangan, Bandung, Kalidawir, Pakel, dan Gondang. Jika berhasil dipanen optimal, produksi diperkirakan mencapai 144 hingga 160 ton.
Dengan harga bawang merah di tingkat petani saat ini sekitar Rp26 ribu per kilogram, potensi nilai produksi bisa menyentuh sekitar Rp3,7 miliar. Menurut Mahmudi, sebagian petani mengambil risiko tersebut untuk menyasar momentum pasca-Idul Fitri 2026.
“Potensinya memang besar. Kalau produksinya tembus 160 ton, nilainya cukup signifikan. Namun ini tetap langkah yang berisiko,” katanya.
Ia mengingatkan, tanaman bawang merah sangat sensitif terhadap genangan air. Curah hujan tinggi dapat memicu pembusukan akar hingga serangan organisme pengganggu tanaman. Meski sebagian besar petani telah menerapkan sistem bedengan dengan mulsa plastik, ancaman gagal panen tetap ada, terutama akibat meningkatnya kelembapan.
“Kelembapan tinggi memicu serangan hama seperti kutu. Kalau tidak diawasi, bisa berujung pada penurunan hasil bahkan gagal panen,” jelasnya.
Baca juga : Bupati Kediri, Mas Dhito, Larang Penggunaan Pengeras Suara Bervolume Tinggi saat Sahur Keliling
Untuk meminimalkan risiko, Dinas Pertanian melalui penyuluh lapangan terus memberikan pendampingan. Petani diimbau menanam di lahan berbedeng agar air tidak menggenang, serta melakukan pemantauan rutin, minimal satu hingga dua hari sekali, terutama setelah hujan.
Mahmudi juga menyoroti masih adanya petani yang enggan membuat bedengan, sehingga lahan rawan tergenang saat hujan turun. “Kalau lahan tidak dibedeng, saat hujan deras tanaman hanya bisa pasrah.
Bagi yang sudah menggunakan bedengan pun tetap harus intensif melakukan pengecekan setelah hujan untuk memastikan tidak ada serangan hama,” pungkasnya.***
Reporter : Sholeh Sirri
Editor : Hadiyin





