BLITAR, LINGKARWILIS.COM – Momentum Lebaran membawa berkah tersendiri bagi para pelaku usaha makanan tradisional. Permintaan jajanan untuk suguhan tamu melonjak tajam, bahkan mampu mendongkrak omzet hingga dua kali lipat.
Kondisi tersebut dirasakan Wiwik Widuriati, produsen rengginang di Dusun Sidomulyo, Desa Gledug, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. Saat ini, ia bersama keluarganya tengah kebut produksi demi memenuhi pesanan, baik dari wilayah Blitar maupun luar kota.
“Ada peningkatan. Karena rengginang banyak dijadikan suguhan Lebaran untuk tamu. Sekarang kami terus mengejar produksi. Mudah-mudahan cuaca mendukung karena prosesnya juga bergantung panas matahari,” ujar Wiwik, Rabu (4/3/2026).
Baca juga : Tunggu Aturan Pusat, Pemkot Blitar Belum Pastikan Jadwal Pencairan THR ASN
Usaha rengginang yang dijalankan Wiwik merupakan bisnis turun-temurun keluarga. Ia mulai menekuni usaha tersebut secara mandiri sejak 2007, meski sebelumnya sudah ada anggota keluarga yang lebih dulu menjalankan produksi makanan berbahan dasar ketan tersebut.
Pada awal merintis usaha, kapasitas produksi dan pemasaran masih terbatas, hanya dari desa ke desa. Namun seiring waktu, pasar semakin meluas hingga mampu memenuhi permintaan di wilayah Blitar dan sekitarnya.
“Awalnya hanya lingkup kecil. Sekarang alhamdulillah sudah merambah ke kota-kota, dan yang pasti pasar Blitar sudah terpenuhi,” katanya.
Dalam sehari, Wiwik mampu memproduksi lebih dari satu kuintal rengginang. Proses pembuatannya terbilang sederhana, dimulai dari perendaman ketan, kemudian ditiriskan dan dikukus selama sekitar 1,5 jam. Setelah itu adonan dicetak dan dijemur hingga benar-benar kering sebelum siap digoreng atau dipasarkan.
Varian rasa yang ditawarkan pun beragam, mulai dari terasi, bawang, hingga ketan hitam. Harga jualnya dipatok Rp35 ribu per kilogram.
Meski demikian, produksi rengginang sangat bergantung pada cuaca, terutama pada tahap pengeringan. Saat panas matahari terik, proses penjemuran bisa selesai dalam dua hari. Namun ketika musim hujan, pengeringan bisa memakan waktu hingga satu minggu.
“Kalau cuaca bagus cepat kering. Tapi kalau hujan terus, bisa sampai seminggu,” jelas perempuan berusia 53 tahun itu.
Memasuki puncak permintaan jelang Lebaran, kebutuhan bahan baku ketan dalam sebulan bisa mencapai 2 ton. Selain momentum hari raya, permintaan juga meningkat saat musim hajatan pernikahan karena rengginang sudah identik sebagai suguhan bagi para tamu.***
Reporter: Aziz Wahyudi
Editor : Hadiyin

