Kediri, LINGKARWILIS.COM – Memasuki musim hujan, para petani cabai di Kabupaten Kediri diimbau lebih waspada terhadap serangan virus busuk akar. Kondisi lahan yang lembap dan selalu basah menjadi pemicu utama munculnya penyakit tersebut. Jika tidak segera ditangani, virus ini dapat menyerang batang, daun, hingga buah cabai, sehingga tanaman menjadi layu dan membusuk.
Petani disarankan untuk segera mencabut dan membakar tanaman yang terinfeksi agar penyebaran tidak meluas ke lahan lainnya. Selain busuk akar, ancaman lain yang perlu diwaspadai ialah kutu kebul, pethek, dan ulat grayak. Hama-hama ini biasanya berkembang pesat di musim penghujan dan menyerang bagian bawah daun tanaman cabai.
“Kalau sudah kena, daun akan menguning, buah muncul bercak hitam, lalu membusuk. Karena itu penting dilakukan pemantauan rutin dan penyemprotan sesuai kondisi tanaman,” ujar Edi Sampurno (50), petani cabai asal Ringinrejo, Minggu (26/10/2025).
Baca juga : Temukan Kedamaian di Tengah Tugas, Perwira Lalu Lintas Polsek Kediri Kota Ini Tekuni Hobi Bertanam
Ia menambahkan, saat curah hujan tinggi, langkah utama yang dilakukan petani adalah menguras genangan air menggunakan diesel agar lahan tetap kering dan akar tidak mudah busuk. “Kalau air tergenang, cabai cepat mati. Jadi harus rutin dikontrol supaya pertumbuhan tetap optimal,” jelasnya.
Sementara itu, harga cabai di pasaran turun signifikan menjadi sekitar Rp15.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp25.000–Rp30.000 per kilogram. Penurunan harga ini terjadi karena belum memasuki masa panen raya, sementara pasokan dari luar daerah masih cukup banyak.
Edi berharap, meski musim hujan membawa tantangan, hasil panen mendatang tetap baik dan harga cabai bisa kembali stabil.
“Yang penting rajin merawat dan menjaga dari hama. Kalau tanaman sehat, hasilnya juga bagus,” pungkasnya.***
Reporter: Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





