KEDIRI, LINGKARWILIS.COM – Aprilia Herawati, seorang guru taman kanak-kanak di Dusun Dahu, Desa Jatirejo, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, kini harus menjalani hidup penuh ketidakpastian setelah rumahnya di Desa Tiron tergusur proyek Tol Kediri-Tulungagung.
Saat ditemui di rumah kontrakannya di Perumahan Manyaran, Kecamatan Banyakan, Selasa (25/2/2025), Aprilia mengungkapkan kesulitannya sejak kehilangan tempat tinggal.
Selain harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk mengajar, ia juga harus berjuang bersama suami yang bekerja sebagai buruh serabutan dan anaknya di tengah belum jelasnya harga ganti rugi lahan mereka.
Baca juga : Menjelang Ramadan, Produksi Tahu Takwa Kediri Meningkat
“Saya dan warga lain sebenarnya ikhlas, tetapi kami hanya ingin keadilan. Harga ganti rugi seharusnya disamakan agar tidak ada yang dirugikan,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Yang lebih memprihatinkan, rumah kontrakan yang mereka tempati saat ini hanya dipinjami selama satu tahun oleh pihak proyek, tanpa kepastian setelah masa tersebut berakhir.
Aprilia dan keluarganya bahkan belum berani menandatangani perjanjian kontrak karena khawatir akan ada potongan tambahan sebagai pengganti sewa.
Baca juga : Kepala DP2KBP3A Kabupaten Kediri Ajak OPD Terkait Bersinergi dalam Upaya Mewujudkan Keluarga Berkualitas
Kondisi tempat tinggal sementara pun jauh dari layak. Ruangannya yang sempit tak mampu menampung seluruh perabotan, membuat barang-barang masih berserakan dan belum tertata dengan baik.
Ketidakjelasan ini menjadi beban berat bagi Aprilia dan keluarganya. Setiap hari mereka hidup dalam kecemasan, tanpa kepastian kapan hak mereka akan terpenuhi.
“Kami hanya ingin kejelasan, agar bisa hidup tenang seperti dulu,” tutup Aprilia lirih.
Bagi mereka, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan tempat berlindung dan menyimpan kenangan kehidupan.***
Reporter : Agus Sulistyo Budi
Editor: Hadiyin





