BATU, LINGKARWILIS.COM – Aksi perusakan puluhan nisan di TPU Sumbersari/Cembo, Dusun Sumbersari, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, memantik reaksi keras warga. Sedikitnya 20 nisan dilaporkan mengalami kerusakan akibat pembongkaran yang dilakukan tanpa melalui kesepakatan bersama masyarakat maupun ahli waris.
Menyikapi insiden tersebut, pemerintah desa bersama unsur Forkopimcam dan tokoh masyarakat menggelar musyawarah dusun pada Senin (23/2/2026) malam di Balai Dusun Sumbersari.
Pertemuan itu dihadiri perwakilan Polres Batu, jajaran Polsek Bumiaji, unsur Kecamatan Bumiaji, Kepala Desa Giripurno, Bhabinkamtibmas, BPD, perangkat dusun, RT/RW, Linmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pihak yang diduga melakukan pembongkaran.
Baca juga : Operasi Pekat Semeru 2026 Resmi Dimulai, Ini Target Penindakan Polres Batu
Dalam forum tersebut terungkap bahwa pembongkaran nisan dilakukan dengan alasan membuka akses jalan di area pemakaman. Namun, langkah tersebut tidak didahului musyawarah ataupun pemberitahuan kepada warga dan keluarga ahli waris.
Kepala Dusun Sumbersari, Istiyah, menyampaikan bahwa musyawarah menghasilkan sejumlah kesepakatan. Warga secara tegas meminta agar para pihak yang terlibat dicopot dari jabatan juru kunci makam sebagai bentuk pertanggungjawaban. Permintaan itu muncul karena aktivitas di area pemakaman tanpa musyawarah disebut bukan kali pertama terjadi.
Selain itu, forum juga memutuskan bahwa pihak yang bertanggung jawab wajib memperbaiki seluruh kerusakan dan mengembalikan nisan ke kondisi semula sebelum pembongkaran dilakukan.
Pihak kepolisian menyatakan akan terus melakukan pendalaman untuk mengantisipasi potensi gesekan lanjutan di tengah masyarakat. Hingga saat ini, situasi di Dusun Sumbersari terpantau aman dan kondusif dengan pengawasan aparat setempat.
Baca juga : Tak Sekadar Buka Puasa ! Iftar On The Sky Batu Villas Tawarkan Sensasi Kuliner dengan Panorama Spektakuler
Peristiwa tersebut menjadi perhatian serius warga karena makam tidak sekadar tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga memiliki nilai historis dan emosional bagi keluarga yang ditinggalkan.***
Reporter : Arief Prabowo
Editor : Hadiyin





