Ruwatan Massal di Sanggar Aji Laras Diikuti 147 Peserta, Lestarikan Tradisi Jawa di Bulan Suro

Ruwatan Massal di Sanggar Aji Laras Diikuti 147 Peserta, Lestarikan Tradisi Jawa di Bulan Suro
Prosesi ruwatan di Sanggar Seni Aji Laras Dusun Kunir Desa Bulupasar Kecamatan Pagu Minggu siang (bakti)

KEDIRI, LINGKARWILIS.COM – Sebanyak 147 peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten Kediri maupun sejumlah daerah di Indonesia mengikuti prosesi ruwatan massal yang digelar di Sanggar Aji Laras, Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Minggu (12/7/2026).

Prosesi sakral yang rutin dilaksanakan setiap Bulan Suro tersebut dipimpin oleh Ki Brodianto bersama para sesepuh dan tokoh masyarakat. Berbagai sesaji tradisional disiapkan sebagai bagian dari rangkaian ritual yang bertujuan memohon keselamatan sekaligus membersihkan diri dari hal-hal yang dianggap membawa kesialan dalam kehidupan.

Acara diawali dengan pagelaran wayang ruwatan yang menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat Jawa. Wayang digunakan sebagai media simbolis untuk menghilangkan sukerta atau unsur yang dipercaya dapat menjadi penghalang perjalanan hidup seseorang.

Peserta ruwatan berasal dari berbagai kelompok usia, mulai balita hingga orang dewasa. Mereka mengikuti prosesi karena termasuk dalam kategori yang menurut tradisi Jawa dianjurkan menjalani ruwatan, seperti anak tunggal (ontang-anting), kedhana-kedhini, kedhini-kedhini, pandawa, serimpi, serimbo, luwang, dan berbagai kategori lainnya yang secara keseluruhan mencapai 27 jenis.

Baca juga :Β Pemkot Kediri Beri Waktu Sepekan, PKL dan Parkir Liar di Taman Sekartaji Akan Ditertibkan

Dalam prosesi tersebut juga digunakan air suci yang diambil dari 11 sumber mata air dan lokasi yang dianggap memiliki nilai spiritual. Di antaranya Patirtan Tirto Kamandanu Menang Pagu, Patirtan Sumber Bulus, Patirtan Sri Maharaja Pare, Patirtan Cakarsi, Tirta Empul Bali, Situs Gunung Padang Jawa Barat, air Laut Selatan, Sumber Mata Air Condro Geni Ngliman Gunung Wilis, hingga Sumber Goteh Maharani Pracecwara.

Ki Brodianto selaku penggagas kegiatan mengaku bersyukur antusiasme masyarakat mengikuti ruwatan tahun ini cukup tinggi. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bentuk ikhtiar spiritual agar seseorang terhindar dari sengkala atau halangan dalam menjalani kehidupan.

“Ruwatan merupakan tradisi masyarakat Jawa untuk menyucikan diri serta memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Harapannya, peserta dapat menjalani kehidupan yang lebih baik dan terhindar dari berbagai kesialan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4), Mubarok Muslimin, menilai pelaksanaan ruwatan menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Baca juga :Β Mahasiswi S3 Asal Jepang Ikuti Prosesi Jamasan Situs Totok Kerot di Kediri

Menurutnya, tradisi ruwatan tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi warisan budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi muda agar tetap lestari.

“Ruwatan merupakan salah satu bentuk tradisi yang harus terus dijaga. Melalui media wayang, masyarakat diajak berikhtiar memohon keselamatan. Generasi Z juga perlu memahami bahwa tradisi ini merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa yang patut dilestarikan,” katanya.***

Reporter: bakti Wijayanto

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *