KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Sanggar Tari Ande Ande Lumut Desa/Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, bersiap menggebrak awal tahun 2026 dengan pementasan sendratari akbar bertajuk Panji Laras. Karya kolosal ini melibatkan sekitar 60 penari dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, remaja hingga dewasa.
Saat ini, proses latihan tengah berlangsung intensif. Rencananya, pementasan tersebut akan digelar pada peringatan Hari Tari Internasional 2026 di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.
Koreografer ternama Kabupaten Kediri sekaligus pimpinan Sanggar Ande Ande Lumut, Nur Setyani, S.Sn., mengatakan bahwa pergelaran tari dalam rangka Hari Tari Internasional merupakan agenda tahunan yang selalu dipersiapkan secara matang.
“Pagelaran Hari Tari Internasional adalah agenda rutin. Karena itu, kami menyiapkan penari secara profesional dan total, agar menghasilkan pertunjukan yang berkelas,” ujarnya.
Baca juga : Revitalisasi Jalan Stasiun Kediri Tuntas, Puluhan CCTV Dipasang untuk Pengamanan Kawasan
Dalam karya terbarunya, Nur mengangkat legenda Panji Laras yang berasal dari Kabupaten Kediri. Menurutnya, cerita Panji merupakan legenda yang telah dikenal luas masyarakat Indonesia, sehingga mudah diterima penonton bila dikemas dengan kuat secara artistik.
“Kami mengangkat legenda Panji Laras dengan garapan tari yang menonjolkan karakter tokoh secara kuat, sehingga alur cerita bisa tersampaikan dan dipahami oleh audiens,” jelasnya.
Nur Setyani dikenal berpengalaman menggarap karya tari kolosal dan sendratari akbar di berbagai ajang seni, baik tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Dalam setiap karyanya, ia selalu menghadirkan konsep baru dengan menggali sejarah budaya dan legenda lokal Kediri sebagai sumber inspirasi.
Baca juga : Pastikan Operasi Lilin Berjalan Optimal, Kapolres Kediri Cek Pospam–Posyan hingga Jalur Perbatasan
“Berangkat dari eksplorasi sejarah dan budaya itulah ide karya tari kami wujudkan. Lalu dipadukan dengan penata gending, penata rias, dan penata busana yang mumpuni, sehingga karya tari tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang sarat pesan moral,” pungkasnya.***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





