KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Rumah Budaya Kelurahan Pakelan, Kota Kediri, kembali menjadi ruang perjumpaan para seniman lintas generasi melalui kegiatan sarasehan seni yang digelar pada Jumat (23/1/2026). Dalam kesempatan tersebut, seniman pematung macan putih asal Desa Balong Jeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Mbah Suwari, hadir sebagai narasumber utama.
Sarasehan ini diikuti oleh seniman dari Kota dan Kabupaten Kediri, serta menarik minat kalangan muda yang ikut terlibat aktif dalam diskusi kebudayaan. Kegiatan tersebut sekaligus menandai penutupan pameran seni lukis karya Arif Budiono, pelukis asal Pare, Kabupaten Kediri.
Dalam pemaparannya, Mbah Suwari mengisahkan latar belakang lahirnya patung macan putih yang sempat menjadi perbincangan luas di tingkat nasional. Ia menyebut, karya tersebut dibuat atas permintaan kepala desa dan tokoh masyarakat Balong Jeruk sebagai upaya menghadirkan ikon desa yang berakar pada sejarah lokal.
Baca juga : Dishub Kabupaten Kediri Bidik PAD Retribusi Parkir 2026 Tembus Rp19,1 Miliar
“Macan putih bukan sekadar karya seni, melainkan simbol perjalanan sejarah desa kami. Berdasarkan cerita para sesepuh, saat Mbah Sri membuka alas Balong Jeruk, beliau didampingi oleh macan putih. Dari situlah identitas desa itu kami angkat,” tutur Mbah Suwari.
Ia mengaku tidak pernah membayangkan patung tersebut akan viral di media sosial dan menuai beragam respons dari masyarakat. Menurutnya, proses penciptaan dilakukan semampunya, mengikuti imajinasi tentang sosok macan putih yang awalnya tampak garang, namun kemudian dikenal publik dengan kesan yang lebih bersahabat.
“Saya hanya berkarya sesuai kemampuan. Soal viral itu di luar dugaan. Tapi saya anggap sebagai berkah, karena desa jadi dikenal dan pelaku UMKM ikut merasakan dampaknya,” ungkapnya.
Baca juga : Satlantas Polres Kediri Kota Ajak Ojek Pangkalan dan Online Jaga Ketertiban di Jalan Stasiun
Hal senada disampaikan Perencana Desa Balong Jeruk, Nanang, yang akrab disapa Bayan. Ia menjelaskan bahwa pembangunan patung tersebut sebenarnya telah direncanakan sejak lama dan baru terealisasi pada awal Desember 2025.
“Tujuan awalnya memang untuk menghadirkan ikon desa. Setelah viral, justru dampaknya positif. Desa makin dikenal, pengunjung berdatangan, dan roda ekonomi ikut bergerak,” jelasnya.
Ia juga mewakili pemerintah desa menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan pengunjung yang telah memberikan perhatian. Nanang berharap kawasan tersebut ke depan dapat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan, baik bagi Desa Balong Jeruk maupun Kabupaten Kediri secara umum.
Sementara itu, pemilik Rumah Budaya Pakelan, Rindu Rikat, menegaskan bahwa kegiatan sarasehan menjadi ruang penting bagi seniman untuk bertukar gagasan dan merawat ekosistem kebudayaan.
“Rumah Budaya ini kami hadirkan sebagai ruang dialog, bukan hanya tempat pameran. Di sini seniman bisa berbagi proses kreatif, cerita, hingga kegelisahan. Kehadiran Mbah Suwari malam ini menjadi bukti bahwa karya dari desa bisa bergema luas,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar guna menjaga keberlangsungan seni dan budaya, terutama di kalangan generasi muda.
Sarasehan ditutup dengan diskusi terbuka, ramah tamah, serta sesi foto bersama. Penutupan ini sekaligus menandai berakhirnya pameran lukisan dan memperkuat semangat kolaborasi antarseniman di wilayah Kediri Raya.***
Reporter: Agus Sulistyo Budi
Editor: Hadiyin





