LINGKARWILIS.COM – Proses penerimaan murid baru (SPMB) tahun 2025 di Tulungagung menyisakan persoalan tersendiri.
Dinas Pendidikan setempat mencatat masih ada belasan sekolah menengah pertama (SMP) negeri yang belum memenuhi kuota siswa bahkan dua di antaranya hanya berhasil menjaring enam siswa baru.
Plt. Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Tulungagung, Endra Kusriawan menyampaikan bahwa hingga hari terakhir pelaksanaan SPMB, masih terdapat sejumlah SMP negeri yang kuotanya belum terpenuhi.
Berdasarkan data yang dihimpun, tercatat sebanyak 17 SMP negeri belum mencapai kuota maksimal. “Kalau secara umum, dari total 37 lembaga SMP negeri di Tulungagung, sebanyak 17 lembaga SMP negeri kuota siswa barunya belum terpenuhi 100 persen. Adapun dari 17 lembaga itu, terdapat 2 sekolah yang paling minim siswa baru,” kata Endra Kusriawan, Kamis (3/7/2025).
Tragis! Pemuda di Tulungagung Meninggal Tersengat Listrik Gegara Bersihkan Kolam Ikan
Berdasarkan data laman resmi SPMB Tulungagung, dua sekolah dengan jumlah siswa baru terendah adalah SMP Negeri 2 Rejotangan dan SMP Negeri 2 Ngantru.
Masing-masing sekolah tersebut hanya menerima enam siswa dari total kuota 64 siswa yang disediakan—idealnya cukup untuk dua rombongan belajar (rombel).
Endra menjelaskan, minimnya jumlah siswa baru itu terjadi sejak SPMB gelombang pertama untuk mengantisipasi kekurangan tersebut, pihaknya telah membuka SPMB gelombang kedua. Namun sayangnya, dua sekolah tersebut justru tidak mendapatkan tambahan pendaftar.
“Kalau sesuai data kami, dua sekolah itu hanya mendapat siswa baru saat pelaksanaan SPMB gelombang pertama saja. Sedangkan saat gelombang kedua, tidak ada pendaftar,” ungkapnya.
79 Tumpeng Meriahkan Puncak Hari Bhayangkara ke-79 Polres Batu
Disdik Tulungagung hingga kini belum dapat memastikan penyebab utama minimnya minat calon siswa terhadap dua sekolah tersebut.
Maka dari itu. evaluasi akan segera dilakukan demi mengetahui faktor yang memengaruhi rendahnya animo masyarakat.
Endra menyampaikan bahwa pihaknya juga mendorong dua sekolah tersebut untuk melakukan terobosan, baik dari sisi infrastruktur maupun metode pembelajaran, agar bisa bersaing dan lebih menarik minat calon peserta didik.
“Kemungkinannya beragam, bisa karena memang tidak ada yang mau daftar disana, atau karena kalah bersaing dengan sekolah swasta seperti MTS atau MTS negeri atau bahkan pondok pesantren,” pungkasnya.





