Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Sedikitnya enam kepala keluarga (KK) di RT 01 RW 01 Dusun Karangsengon, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, hingga kini masih harus menyeberangi sungai untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut terjadi karena tidak adanya akses jembatan penghubung menuju permukiman mereka.
Warga terpaksa mengandalkan jalur sungai sebagai akses utama, baik untuk keperluan sekolah anak-anak maupun kegiatan ekonomi.
“Setiap hari kalau berangkat dan pulang sekolah, anak-anak harus digendong untuk menyeberangi sungai,” ujar Soiman, salah satu warga, Kamis (12/2/2026).
Ia menjelaskan, jalur terdekat menuju sekolah memang harus melintasi sungai. Memang ada akses alternatif, namun warga harus memutar sejauh kurang lebih tiga kilometer.
Saat ini terdapat lima anak sekolah yang setiap hari menyeberangi sungai, terdiri dari dua anak TK, dua siswa SD, dan satu pelajar SMK. Untuk anak usia dini dan sekolah dasar, orang tua harus menggendong mereka, terutama ketika arus sungai cukup deras.
Baca juga : Pumping Test Dipercepat, PDAM Kota Kediri Pastikan 19 Sumur Terhindar dari Penertiban Izin Air Tanah
“Sepeda motor biasanya kami titipkan di rumah warga yang ada di seberang sungai,” imbuhnya.
Soiman menambahkan, pada 2006 lalu warga sempat membangun jembatan bambu secara swadaya. Namun jembatan tersebut tidak bertahan lama karena rusak diterjang banjir saat musim penghujan.
“Arus sungai deras saat banjir, jadi jembatan bambu itu tidak kuat,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Katijem, warga lainnya. Ia mengaku saat musim hujan dan debit air meningkat, anak-anak terpaksa tidak masuk sekolah karena tidak bisa menyeberang.
“Kalau banjir tidak bisa lewat. Musim hujan ini sudah dua kali tidak masuk sekolah,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sidoharjo, Sarmin, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut ada empat rumah dalam satu RT yang terpisah aliran sungai dan bergantung pada akses tersebut.
Baca juga : TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Bekali Warga Olahan Ikan Lele
“Kalau desa membangun jembatan sendiri, anggarannya belum mencukupi,” pungkasnya.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin


