JOMBANG, LINGKARWILIS.COM – Ketenangan malam di Gedung Kesenian Jombang pecah oleh pertunjukan yang tak biasa. Tirai terbuka, menampilkan panggung istana yang mewah namun semu. Di sinilah Teater TomboAti mempersembahkan lakon ke-44 mereka berjudul Darpana, bagian dari perayaan 29 tahun eksistensi komunitas teater tersebut.
Dibalik kemegahan panggung dan kostum pewayangan, tersimpan kisah mendalam tentang kehilangan kekuasaan dan krisis identitas. Tokoh utama, Aryo, digambarkan sebagai sosok yang dulu disegani, namun tak siap melepaskan masa jayanya. Ia membangun ‘kerajaan’ dalam imajinasi rumahnya: ia menjadi Dasamuka, sang istri diperankan sebagai Dewi Sinta, dan anggota keluarga pun ikut tenggelam dalam ilusi kejayaan.
“Lakon ini menggambarkan sindrom pasca kekuasaan (Post Power Syndrome). Jika tak kuat mental, seseorang bisa hanyut dalam dunia khayal seperti Aryo,” jelas Imam Ghozali Ar, sang sutradara, usai pertunjukan Sabtu malam (2/8/2025).
Selama dua jam, penonton diajak menyusuri ruang batin Aryo—sebuah ruang yang rapuh oleh penyangkalan. Judul “Darpana”, yang berarti cermin dalam bahasa Sanskerta, menjadi metafora akan jiwa yang retak karena menolak realitas.
Baca juga : TMMD ke-125 di Jombang Dikunjungi Mayjen TNI Candra Wijaya, Pantau Langsung Progres Pembangunan Desa
Imam menegaskan, panggung istana yang terlihat hanyalah pantulan dari kekacauan batin Aryo, bukan kisah sejarah. Cerita ini menjadi relevan dengan pengalaman pribadinya yang baru saja pensiun dari jabatan struktural.
Tak seluruh cerita dibalut duka. Sosok Kidang Alit, diperankan oleh komedian lokal Cak Ukil, menjadi penyeimbang melalui humor-humor cerdas yang tetap mengandung makna. Penampilannya yang baru pulang haji menambah warna unik dalam pertunjukan yang sarat simbol ini.
Penulis naskah, Fandi Ahmad, mengadaptasi lakon dari karya legendaris Nano Riantiarno dengan modifikasi 40% untuk menyentuh konteks kekinian.
“Cerita ini juga menjadi semacam terapi emosional, terutama bagi kami yang juga sedang berdamai dengan perubahan peran dalam hidup,” ungkap Fandi.
Adegan klimaks yang membekas terjadi saat keluarga Aryo, dengan berat hati, membawanya ke rumah sakit jiwa. Bukan karena penolakan, tetapi karena kasih yang ingin membebaskannya dari cengkeraman masa lalu.
Baca juga : Jombang Naik Peringkat di Porprov Jatim 2025, Target 10 Besar di Depan Mata!
“Terkadang, cinta harus berani mengambil sikap tegas. Dan itu adalah refleksi terbesar dari cerita ini,” kata Imam penuh makna.
Dipentaskan empat kali sejak 1 hingga 3 Agustus, Darpana bukan hanya pertunjukan seni, melainkan ruang kontemplasi. Di akhir lakon, saat tepuk tangan bergema, banyak penonton yang diam-diam merenung.***
Reporter : Agung
Editor : Hadiyin





