KERTOSONO, LINGKARWILIS.COM – Di antara hamparan sawah hijau yang membentang di Kertosono, berdiri sebuah warung kopi sederhana yang tak lekang oleh waktu, Kopi Mak Par. Sejak berdiri pada tahun 1990, tempat ini bukan sekadar warung, melainkan ruang nostalgia di mana aroma kopi menjadi pengikat kenangan.
Di balik kepulan asap kopi itu, Mak Par (63) menjadi sosok penjaga tradisi. Dengan tangan berkeriput namun cekatan, ia menyangrai biji kopi di atas tungku tanah liat berbahan bakar kayu.
Panas arang yang stabil menciptakan cita rasa khas pekat, pahit, dan sedikit beraroma asap rasa yang tak pernah berubah sejak pertama kali warung ini berdiri.
“Orang sering bilang saya harus pasang Wi-Fi atau pakai mesin modern,” ucap Mak Par sambil tersenyum.
Baca juga : PDAM Kota Kediri Gelar Forum Konsultasi Publik Guna Tingkatkan Standar Pelayanan Air Bersih
“Tapi tugas saya bukan ikut zaman, melainkan menjaga rasa yang membuat orang kembali.” sambungnya.
Kopi Mak Par hadir sebagai antitesis dari kafe modern yang menawarkan kemewahan. Di sini, yang dijual bukan fasilitas, melainkan kehangatan interaksi manusia. Tanpa Wi-Fi, pelanggan mulai dari pedagang pasar, pensiunan, hingga anak muda diajak berbincang, tertawa, dan berbagi kisah di antara aroma kopi yang menggoda.
Warung ini menjadi simbol perlawanan terhadap derasnya arus modernisasi. Ia membuktikan bahwa usaha yang mampu bertahan bukanlah yang paling canggih, tetapi yang menjaga keaslian dan kejujuran rasa.
Baca juga : Possi Kabupaten Kediri Siapkan Atlet Selam Menuju Kejurda Jatim 2025
“Kakek saya selalu bilang, kalau kamu membuat sesuatu dengan hati, maka ia akan punya nyawa, dan orang akan merasakannya,” kenang Mak Par.
“Yang melegenda bukan bangunannya, tapi janji rasa yang tidak pernah ingkar.” tutupnya.
Dengan secangkir kopi hitam panas di tangannya, Mak Par tak sekadar menyajikan minuman ia menyuguhkan kenangan yang abadi.***
Reporter : Ade Rian Setiono
Editor : Hadiyin





