JAKARTA, LINGKARWILIS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia dalam tujuh hari mendatang.
BMKG menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, baik skala global maupun lokal.
“Kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan hujan lebat yang dapat disertai petir, angin kencang, bahkan potensi banjir di wilayah-wilayah rawan,” tulis BMKG, melalui akun resminya.
Dalam tiga hari terakhir, curah hujan di beberapa daerah menunjukkan intensitas tinggi. Wilayah Maluku mencatat curah hujan mencapai 205,3 mm/hari, disusul Jabodetabek dengan 121,8 mm/hari, Kalimantan Barat 89,5 mm/hari, dan Jawa Tengah 83 mm/hari. Kondisi ini menandakan bahwa cuaca ekstrem masih mungkin terjadi meski tidak berada dalam musim penghujan.
Baca juga : PBB : Israel Cegah 100 Dokter Masuk ke Gaza Sejak Maret
Salah satu pemicu utama adalah munculnya Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia barat daya Bengkulu, yang menyebabkan terbentuknya zona konvergensi atau perlambatan angin. Zona ini mendukung pembentukan awan hujan secara signifikan.
“Meski bibit siklon ini diperkirakan belum akan berkembang menjadi siklon tropis dalam waktu dekat, keberadaannya tetap memengaruhi kondisi cuaca di sebagian wilayah Indonesia,” jelas BMKG.
Wilayah yang diperkirakan terdampak meliputi kawasan dari barat daya Sumatra hingga bagian selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan potensi hujan intensitas sedang hingga lebat.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi gelombang tinggi antara 2,5 hingga 4 meter di beberapa perairan, termasuk Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Lampung, serta wilayah laut di selatan Banten hingga NTT.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan bersiap menghadapi perubahan kondisi atmosfer yang cepat.
Baca juga : Dorong Transparansi, Kejari Kabupaten Kediri dan Kemendes Kenalkan Aplikasi Jaga Desa
Selain ancaman banjir, BMKG turut mengingatkan bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengingat musim kemarau belum sepenuhnya berakhir.
“Selain hujan lebat dan angin kencang, kita juga harus tetap waspada terhadap potensi kebakaran lahan karena sisa musim kemarau masih berlangsung. Kesiapsiagaan adalah kunci menghadapi dinamika cuaca yang tidak menentu ini,” tutup BMKG.***
Editor : Hadiyin





