LINGKARWILIS.COM – Dermatolog senior FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Sri Awalia, Sp.DVE, Ph.D., melalui kanal YouTube Caffeefka, mengingatkan masyarakat akan ancaman ganda bagi kesehatan kulit, yakni paparan polusi udara dan tren produk kecantikan instan yang menjanjikan kulit putih seketika.
Dalam diskusi bersama Tirta, ia menekankan bahwa alih-alih mengejar warna kulit yang tak alami, masyarakat seharusnya fokus pada perawatan skin barrier, lapisan pelindung utama kulit dari paparan luar.
Menurut dr. Awalia, banyak orang keliru mengaitkan alergi kulit dengan makanan, padahal penyebab utamanya justru berasal dari polutan udara atau aeroalergen.
“Kulit adalah benteng pertama yang langsung bersentuhan dengan polusi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa polusi kendaraan bermotor, terutama karbon dioksida (CO₂), memiliki dampak besar terhadap kesehatan kulit. Karena itu, bagi pengendara motor, pemakaian pelindung seperti sarung tangan, masker, dan penutup kepala sangat dianjurkan.
dr. Awalia juga membagikan panduan dasar perawatan kulit yang mudah diterapkan sehari-hari:
-
Hindari mencuci wajah terlalu sering. Cukup dua kali sehari, dengan sabun lembut yang tidak menghasilkan banyak busa. Sabun bayi bisa menjadi alternatif aman.
-
Kurangi penggunaan scrub. Eksfoliasi berlebihan dapat menyebabkan iritasi dan memperparah jerawat.
-
Gunakan tiga langkah wajib perawatan kulit: pembersih → pelembap → tabir surya (SPF minimal 30).
Ia menyoroti maraknya produk pemutih yang menjanjikan hasil cepat, namun justru mengandung bahan berbahaya seperti steroid. Penggunaan jangka panjang dapat memicu jerawat parah dan merusak lapisan pelindung kulit.
“Kita seharusnya bangga dengan kulit sawo matang,” tegas dr. Awalia. Warna kulit khas Indonesia ini memiliki perlindungan alami terhadap sinar UV dan lebih rendah risiko kanker kulit dibandingkan kulit cerah ras Eropa.
Selain polusi dan kosmetik, dr. Awalia juga menyoroti dua ancaman tak kasatmata dari gaya hidup modern:
-
Stres dan kurang tidur, yang dapat memicu ketombe dan alergi. Tidur ideal disarankan sebelum pukul 22.00 untuk menjaga keseimbangan hormon.
-
Industri fast fashion, yang menghasilkan limbah kimia berbahaya dan mencemari lingkungan. Zat toksik dari sisa pewarna kain dapat terserap melalui kulit dan menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan diagnosis sendiri. Segera konsultasi ke dokter kulit jika muncul perubahan mencurigakan seperti tahi lalat yang membesar, berubah warna, atau berdarah, karena bisa menjadi tanda awal penyakit serius.
“Selalu komunikasikan riwayat keluhan dengan jelas, agar penanganan bisa tepat dan efektif,” pesan dr. Awalia menutup penjelasannya.***
Reporter : Islakul Jam Jami
Editor : Hadiyin





