Ratusan Ribu Warga Padati Kirab dan Jamasan Pusaka Sambut Malam 1 Suro di Ponorogo

Ratusan Ribu Warga Padati Kirab dan Jamasan Pusaka Sambut Malam 1 Suro di Ponorogo
Pusaka milik Kabupaten Ponorogo saat di kirab dari Kota Lama Kecamatan Jenangan menuju Kota Tengah (Sony)

Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Suasana malam 1 Suro di Kabupaten Ponorogo berlangsung semarak. Ratusan ribu warga memadati sepanjang jalan protokol, Senin (15/6/2026), untuk menyaksikan kirab pusaka peninggalan Prabu Bathara Katong yang menjadi bagian dari tradisi menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram.

Sejak sore hari, masyarakat telah memenuhi jalur kirab. Mereka rela menunggu berjam-jam demi melihat langsung prosesi arak-arakan pusaka yang menjadi agenda rutin dalam rangkaian Grebeg Suro.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Kirab dimulai dari kawasan kota lama di Desa Setono, Kecamatan Jenangan, menuju Rumah Dinas Bupati Pringgitan. Tiga pusaka utama yang diarak yakni Payung Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Nogo, dan Sabuk Angkin Cinde Puspita.

Selain itu, dua pusaka lainnya, yakni Tombak Kyai Pamong Among Geni dan Tombak Kyai Brama Geni, turut dibawa dalam prosesi yang menjadi daya tarik utama masyarakat dan wisatawan.

Baca juga :Β Kloter 112 Jamaah Haji Kabupaten Kediri Dijadwalkan Tiba 30 Juni 2026 Malam

Setelah tiba di Paseban Alun-Alun Ponorogo, seluruh pusaka menjalani prosesi jamasan menggunakan air yang diambil dari tujuh sumber mata air. Ritual sakral tersebut menjadi tradisi yang terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya Ponorogo.

Kirab pusaka juga memiliki nilai sejarah yang kuat. Tradisi ini melambangkan perpindahan pusat pemerintahan Ponorogo dari kawasan kota lama di Setono menuju pusat pemerintahan yang kini berada di kompleks Pemerintah Kabupaten Ponorogo, dengan jarak sekitar lima kilometer.

Pelaksana Tugas Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengatakan bahwa kirab dan jamasan pusaka tidak sekadar menjadi agenda budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa bersama menyambut tahun baru Hijriah.

“Selain melestarikan budaya warisan leluhur, kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama memohon kepada Allah SWT agar Ponorogo dijauhkan dari berbagai bencana, masyarakatnya diberi kesejahteraan, dan daerah ini semakin maju,” ujar Lisdyarita.

Perempuan yang akrab disapa Bunda Rita itu mengungkapkan, antusiasme masyarakat pada pelaksanaan tahun ini terlihat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga :Β Harga Kedelai Impor Naik, Produsen Tahu Kuning Kediri Tetap Pertahankan Harga Jual

“Animo masyarakat sangat luar biasa. Ini menjadi bukti bahwa tradisi dan budaya lokal masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Ponorogo,” katanya.

Tak hanya memiliki nilai budaya dan spiritual, penyelenggaraan kirab pusaka juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Ribuan pengunjung yang memadati kawasan alun-alun maupun jalur kirab turut meningkatkan pendapatan pedagang kaki lima dan pelaku UMKM.

“Agenda tahunan ini juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat, terutama bagi pelaku usaha kecil yang berjualan di sekitar lokasi kegiatan,” tambahnya.

Usai prosesi jamasan, seluruh pusaka kembali disimpan di Rumah Dinas Pringgitan. Sementara itu, air bekas jamasan menjadi rebutan warga yang meyakini air tersebut membawa berkah sekaligus menjadi simbol tolak bala.***

Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *