Blitar, LINGKARWILIS.COM – Ribuan warga memadati Alun-Alun Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Kamis (7/8/2026). Mereka datang untuk mengikuti rangkaian ritual jamasan Gong Kiai Pradah sekaligus berebut air bekas siraman pusaka tersebut.
Antusiasme warga terlihat sejak pagi. Mereka tidak hanya datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Blitar, tetapi juga dari luar daerah, seperti Malang, Tulungagung, Surabaya, hingga sejumlah daerah di luar Pulau Jawa.
Air bekas siraman Gong Kiai Pradah menjadi salah satu hal yang paling dinantikan. Sebagian masyarakat meyakini air tersebut memiliki tuah. Bagi kaum muda, air bekas jamasan dipercaya dapat membuat seseorang terlihat awet muda. Sementara bagi mereka yang telah lanjut usia, air tersebut diyakini dapat menjauhkan dari berbagai marabahaya.
“Setiap tahun saya datang ke Blitar untuk menunggu momen ini, berburu air bekas siraman,” ujar Sulastri, warga Panggungrejo, Kabupaten Blitar.
Baca juga : Dua Hari, 200 Peserta Meriahkan Festival Lansia Kabupaten Kediri 2026
Rangkaian ritual diawali dengan prosesi mengarak Gong Kiai Pradah dari tempat penyimpanan menuju menara yang berada di tengah alun-alun. Sepanjang perjalanan, warga berusaha menyentuh pusaka tersebut. Namun, ketatnya pengamanan membuat tidak semua warga dapat mendekat.
Sesampainya di menara, Gong Kiai Pradah kemudian menjalani prosesi siraman yang menjadi puncak ritual. Prosesi tersebut dipimpin oleh sesepuh masyarakat setempat. Bupati Blitar bersama jajaran Forkopimda juga turut mengikuti prosesi dengan memandikan gong.
Air yang digunakan untuk menyiram pusaka itulah yang kemudian menjadi rebutan warga. Mereka berusaha mendapatkan air tersebut untuk dibawa pulang.
Bagi masyarakat Blitar, Gong Kiai Pradah merupakan salah satu pusaka yang memiliki nilai sakral dan sejarah panjang. Gong tersebut merupakan perangkat gamelan yang oleh sebagian masyarakat diyakini memiliki kekuatan gaib dan kerap dijadikan media untuk memohon keselamatan serta keberkahan.
Tradisi siraman atau jamasan Gong Kiai Pradah pun setiap tahun menjadi salah satu agenda budaya yang dinantikan masyarakat.
Baca juga : Cegah Korupsi, Pemkab Kediri Ajak Masyarakat Menolak Gratifikasi
Gong Kiai Pradah sendiri memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Sebelum dikenal dengan nama tersebut, pusaka ini disebut Bendil Kiai Bicak yang dipercaya pernah menjadi milik Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam.
Sebelumnya, Bendil Kiai Bicak disebut merupakan milik Ki Ageng Selo, leluhur Panembahan Senopati yang memiliki garis keturunan dari Majapahit. Sejumlah kisah mistis dan sakral turut mewarnai perjalanan pusaka tersebut hingga akhirnya dibawa Pangeran Prabu ke Blitar setelah terusir dari lingkungan Kerajaan Mataram di Kartasura.
Selain jamasan Gong Kiai Pradah, pada waktu yang sama juga digelar ritual siraman pusaka Wayang Kiai Bonto di Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.
Wayang Kiai Bonto yang disebut sebagai peninggalan Pangeran Prabu tersebut juga dipercaya masyarakat memiliki nilai sakral dan kekuatan gaib.***
Reporter : Aziz Wahyudi
Editor : Hadiyin





