Kemarau Panjang, Warga Jombang Gelar Tradisi Mandikan Kucing sebagai Ikhtiar Memohon Hujan

Kemarau Panjang, Warga Jombang Gelar Tradisi Mandikan Kucing sebagai Ikhtiar Memohon Hujan
Prosesi memandikan kucing belang telon menggunakan air dawet dan air kembang di tengah sawah Dusun Banjarsari, Desa/Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Minggu (25/10/2026).

Jombang, LINGKARWILIS.COM – Di tengah kemarau panjang yang membuat lahan persawahan mulai mengering, warga Dusun Banjarsari, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, kembali menggelar tradisi memandikan kucing. Ritual turun-temurun ini menjadi bentuk ikhtiar spiritual masyarakat untuk memohon turunnya hujan.

Puluhan petani, pegiat seni, tokoh masyarakat, dan warga berkumpul di area persawahan Dusun Banjarsari pada Minggu (25/10/2026). Di bawah terik matahari, mereka mengikuti prosesi adat yang diyakini telah diwariskan leluhur sejak puluhan tahun silam.

Pegiat seni sekaligus tokoh masyarakat setempat, Samiaji Mijek, menjelaskan bahwa tradisi memandikan kucing bukan sekadar pertunjukan budaya. Ritual tersebut hanya dilaksanakan ketika musim kemarau berlangsung panjang dan hujan tak kunjung turun.

“Ini tradisi intinya minta hujan. Karena kemarau yang dirasa sudah terlalu panjang akibat global warming dan kemungkinan adanya fenomena El Nino, petani berinisiatif melakukan tradisi ini,” ujar Mijek, yang akrab disapa Kang Mijek, seusai prosesi.

Baca juga : Pelajar Temukan 20 Partikel Mikroplastik di Sungai Gogor Jombang, Fosfat Capai Empat Kali Ambang Acuan

Ia menerangkan, tradisi tersebut tidak digelar setiap tahun. Apabila hujan sudah turun meskipun hanya satu atau dua hari, warga biasanya membatalkan pelaksanaan ritual.

Namun, kondisi persawahan yang mulai mengering membuat petani kembali menjalankan tradisi tersebut. Mereka berharap hujan segera datang agar kegiatan menanam padi dapat dimulai.

“Kalau musim kemarau ini kan kebetulan sudah lama. Harusnya bulan ini sudah mulai turun hujan. Makanya kita melakukan ini sebagai doa yang terakhir, minta ke Tuhan supaya segera hujanlah,” tuturnya.

Tradisi memandikan kucing di Dusun Banjarsari memiliki sejumlah unsur yang sarat makna filosofis. Hewan yang digunakan bukan sembarang kucing, melainkan kucing belang telon atau yang dikenal masyarakat sebagai condromowo.

Dalam prosesi tersebut, kucing dimandikan menggunakan air dawet dan air kembang. Ritual dipimpin seseorang yang mengenakan topeng genderuwo, sebagai bagian dari simbol dan ekspresi budaya masyarakat setempat.

Mijek menjelaskan, penggunaan topeng genderuwo memiliki makna tersendiri dalam tradisi tersebut.

Baca juga : Sebanyak 406 Atlet dari 26 Daerah Ikuti Kejurprov Woodball Jatim 2026 di Kabupaten Kediri

“Kenapa genderuwo harus memakai topeng, itu aktualisasi dari kita berdoa. Ya, hanya diri kita dengan Tuhan saja yang tahu,” jelasnya.

Air dawet yang digunakan dalam ritual juga dimaknai sebagai simbol untuk mengurai berbagai persoalan atau kekusutan yang dirasakan masyarakat. Melalui doa tersebut, warga berharap diberikan ketenangan sekaligus kemudahan menghadapi kondisi kemarau.

“Insya Allah udari barang sing ruwet. Jadi kita yang gelisah supaya tenang, supaya hujannya cepat turun,” imbuhnya.

Pelaksanaan ritual turut dimeriahkan kesenian tradisional, di antaranya tari kudang luping dan tari topeng genderuwo. Kesenian tersebut menjadi bagian dari rangkaian tradisi yang oleh masyarakat setempat juga dimaknai sebagai upaya tolak bala.

Menurut Mijek, tradisi memandikan kucing ini kemungkinan hanya ditemukan di Dusun Banjarsari. Ia menyebut ritual tersebut sebagai salah satu tradisi masyarakat Jawa yang berkaitan dengan ikhtiar memohon hujan, selain tari ujung dan pertunjukan wayang dengan lakon Pecahe Watugunung.

Ia menambahkan, kucing memiliki kedudukan simbolis dalam kepercayaan masyarakat Jawa pada masa lalu. Hewan tersebut dianggap sakral dan dikaitkan dengan keseimbangan alam.

“Kucing itu dulu dianggap hewan sakral orang Jawa, simbol keseimbangan alam. Karena kucing tidak pernah mandi, makanya dimandikan dengan asumsi agar cepat turun hujan,” pungkas Kang Mijek.

Di tengah kekhawatiran petani terhadap kekeringan dan potensi gagal panen, tradisi ini menjadi wujud perpaduan antara doa, budaya, dan harapan masyarakat. Meski demikian, turunnya hujan tetap bergantung pada kondisi alam, sementara warga terus berikhtiar agar musim tanam dapat segera berlangsung.***

Reporter: Taufiqur Rachman

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *