Kediri, LINGKARWILIS.COM – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Kediri Raya hingga akhir Agustus 2025 menunjukkan tren positif. Total pendapatan negara tercatat sebesar Rp15,33 triliun, terdiri dari perpajakan Rp14,98 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp349,32 miliar.
Hal tersebut terungkap dalam konferensi pers ALCo Lokal Kediri Raya yang digelar secara daring pada Selasa (30/9/2025).
Kepala KPPN Kediri Moch. Izma Nur Choironi menyampaikan, penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan 13,95% month-to-month (MtM). Pertumbuhan terbesar berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang naik 18,55 persen serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang tumbuh 9,31 persen. Sementara penerimaan PNBP tumbuh 12,76 persen, didominasi PNBP lainnya sebesar Rp192,22 miliar dan pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) Rp157,10 miliar.
“Ekspansi penerimaan ini menunjukkan kontribusi positif sektor-sektor produktif di Kediri Raya, sekaligus memperkuat basis fiskal di tengah ketidakpastian global,” ujarnya.
GP Ansor Jombang Desak Polisi Tindak Tegas Pelaku Pengeroyokan Kader Banser di Tangerang
KPP Pratama Kediri membukukan penerimaan Rp168,19 miliar atau 46,14 persen dari target, didominasi sektor perdagangan besar-eceran serta reparasi kendaraan bermotor, administrasi pemerintahan, dan transportasi-pergudangan.
KPP Pratama Tulungagung membukukan Rp364,89 miliar atau sebesar 43,75 persen target, dengan kontribusi terbesar dari Kabupaten Tulungagung Rp294,65 miliar dan Trenggalek Rp70,24 miliar. Lima sektor penyumbang utama meliputi administrasi pemerintahan, industri pengolahan, serta perdagangan besar-eceran.
Sementara untuk KPPBC TMC Kediri hingga Agustus 2025 mencapai 54 persen target, dengan penerimaan cukai Rp14,20 triliun dan bea masuk Rp2,26 miliar. Meski demikian, sektor hasil tembakau masih tertekan karena pelemahan konsumsi masyarakat akibat inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Di sisi belanja, APBN Kediri Raya telah merealisasikan Rp6,1 triliun atau 74,6 persen dari pagu. Belanja pegawai menyerap Rp844,62 miliar, belanja barang Rp370,83 miliar, belanja modal Rp52,42 miliar, dan bantuan sosial Rp9,85 miliar.
Penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) tumbuh 16,52 persen. Dana Desa menjadi komponen paling dominan dengan realisasi Rp741,18 miliar atau 92 persen. Dana Alokasi Umum (DAU) terealisasi Rp2,82 triliun, Dana Bagi Hasil Rp428,85 miliar, serta Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik Rp773,74 miliar.
Selain penerimaan dan belanja, KPPN Kediri juga menyampaikan terkait penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Ultra Mikro (UMi) terus berkembang. Jumlah debitur mencapai 81.124 orang, tumbuh 16,14 persen dengan nilai penyaluran Rp3,33 triliun. Pertumbuhan tertinggi tercatat di Kabupaten Kediri dan Trenggalek.
Secara keseluruhan, APBN Kediri Raya dinilai masih memberikan kinerja keuangan yang baik.






