Gus Kautsar Tegaskan Pesantren Harus Jadi Ruang Aman dan Nyaman, Bullying Tak Boleh Ditoleransi

Gus Kautsar Tegaskan Pesantren Harus Jadi Ruang Aman, Bullying Tak Boleh Ditoleransi
Gus Kautsar saat memberikan keterangan pada wartawan (Had)

Kediri, LINGKARWILIS.COM – Lingkungan pondok pesantren harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi para santri untuk menimba ilmu serta mengembangkan potensi diri. Karena itu, segala bentuk perundungan atau bullying di lingkungan pesantren tidak boleh mendapatkan ruang dan harus dicegah bersama.

Hal tersebut disampaikan KH Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar usai acara peluncuran dan bedah buku fikih penguatan disabilitas mental psikososial di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, Minggu (21/6/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama.

Menurut Gus Kautsar, upaya mengatasi kasus perundungan di lingkungan pesantren tidak cukup dilakukan melalui aturan formal maupun pendekatan kelembagaan semata. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk membangun budaya yang menghargai sesama dan menjauhkan praktik diskriminasi.

Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir pesantren semakin terbuka menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap persoalan sosial, termasuk kalangan psikolog dan tenaga profesional lainnya.

Baca juga : KAI Edukasi 566 Siswa dan Guru di Madiun-Kediri tentang Keselamatan Jalur Kereta Api

“Beberapa tahun terakhir pondok pesantren sangat terbuka untuk bersinergi dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan urusan sosial, termasuk psikolog dan lainnya,” ujarnya.

Gus Kautsar juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam perlindungan anak di lingkungan pesantren. Menurutnya, terciptanya pesantren yang ramah anak memerlukan komitmen bersama dari seluruh pihak yang terlibat dalam ekosistem pendidikan pesantren.

Ia menegaskan bahwa membangun budaya anti-kekerasan merupakan pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari pengelola pesantren, keluarga santri, masyarakat, hingga para pemangku kepentingan lainnya.

“Pesantren bukan hanya tempat mengaji dan belajar, tetapi juga harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi siapa saja,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Kautsar turut menyoroti pentingnya menghormati setiap individu tanpa memandang kondisi fisik maupun keterbatasan yang dimiliki. Menurutnya, keterbatasan fisik tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan atau mendiskriminasi seseorang.

Ia  juga menilai, semangat menghargai kemampuan setiap individu dan menumbuhkan kepercayaan diri menjadi nilai penting yang harus terus ditanamkan di lingkungan pesantren maupun masyarakat luas.

Baca juga : Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Satlantas Polres Kediri Gelar Bakti Religi di Sejumlah Tempat Ibadah

Sebagai contoh, ia mengisahkan sosok Syekh Abdurrahman, ayah dari KH Dalhar An-Nahrowi Watucongol, Magelang, yang merupakan gurunya para kyai memiliki keterbatasan penglihatan namun tetap dikenal sebagai ulama besar dan berpengaruh.

“Keberhasilan tersebut lahir dari keyakinan dan dukungan lingkungan dimana keterbatasan tidak menjadi  penghalang untuk berhasil,”tutupnya.

Sebagai informasi, isu perlindungan anak dan pencegahan perundungan saat ini menjadi perhatian berbagai lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Melalui penguatan pendidikan karakter, pendampingan psikososial, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, pesantren diharapkan semakin mampu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan mendukung tumbuh kembang santri secara optimal.***

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *