Lamongan, LINGKARWILIS.COM – Kabar baik datang dari sektor pertanian Kabupaten Lamongan. Memasuki musim panen raya kedua, harga gabah di tingkat petani tercatat mencapai Rp8.400 per kilogram. Harga tersebut berada jauh di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.
Kondisi ini menjadi angin segar bagi petani karena tingginya harga jual gabah dinilai mampu memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Aji Istiawan, petani asal Desa Tambakboyo, Kecamatan Tikung, mengatakan dirinya bersyukur dengan kenaikan harga gabah pada musim tanam kedua tahun ini. Menurutnya, kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani.
“Musim tanam pertama kemarin rata-rata laku di harga Rp7.100 per kilogram. Musim tanam kedua ini, alhamdulillah bisa mencapai Rp8.400 per kilogram. Syukur dengan harga ini petani bisa diuntungkan,” ujar Aji, Selasa (4/8/2026).
Baca juga : Persela Lamongan TC di Batu, Bima Sakti Genjot Fisik Pemain Jelang Championship 2026/2027
Ia menilai kondisi petani saat ini lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk penetapan harga gabah dan kemudahan memperoleh pupuk bersubsidi, dianggap memberikan dukungan bagi petani dalam menjalankan kegiatan pertanian.
“Kami para petani merasa lebih diperhatikan sekarang. Terutama pupuk, harganya lebih murah dan lebih mudah didapatkan,” tuturnya.
Menurut Aji, tingginya harga gabah saat ini dipengaruhi kondisi cuaca serta pola panen raya yang tidak berlangsung bersamaan di seluruh wilayah Lamongan. Kondisi tersebut membuat pasokan gabah di pasaran tidak sebanyak pada musim tanam pertama sehingga harga tetap berada di level tinggi.
“Kalau faktornya bisa mahal, kemungkinan karena musim tanam kedua ini tidak semua wilayah menanam padi secara bersamaan. Jadi hasil panennya juga tidak sebanyak musim tanam pertama,” jelasnya.
Dengan produktivitas rata-rata sekitar 10 ton gabah per hektare, petani berpotensi mendapatkan omzet kotor mencapai Rp84 juta dalam satu kali panen.
Namun, pendapatan tersebut belum menjadi keuntungan bersih karena masih harus dikurangi berbagai biaya produksi, seperti pembelian benih, pupuk, obat-obatan, hingga biaya perawatan tanaman.
Baca juga : Sambut HUT ke-81 RI, Pemkab Kediri Imbau Warga Pasang Bendera dan Umbul-Umbul
“Kalau dihitung, pendapatannya sekitar Rp84 juta per hektare. Nanti masih dipotong modal awal seperti bibit, pupuk, obat-obatan, dan biaya perawatan,” katanya.
Aji juga memperkirakan harga gabah di sejumlah kawasan sentra mina padi, seperti Kecamatan Glagah, Deket, dan Karangbinangun, berpotensi lebih tinggi. Hal itu lantaran kualitas gabah dari wilayah tersebut dinilai lebih baik.
“Di sana kualitas padinya memang lebih bagus, jadi seharusnya harganya juga bisa lebih tinggi dibandingkan wilayah kami di Tikung,” pungkasnya.***
Reporter: Suprapto
Editor : Hadiyin





