Jombang, LINGKARWILIS.COM – Petani tomat di Kabupaten Jombang kembali menghadapi masa sulit akibat anjloknya harga jual di tingkat petani. Dalam beberapa pekan terakhir, harga tomat terjun bebas hingga di bawah Rp1.000 per kilogram, membuat banyak petani memilih tidak memanen seluruh hasil tanamannya karena dianggap tidak sebanding dengan biaya produksi.
Salah satu petani, Khusnul Yakin (44), warga Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, mengaku hanya memetik sebagian dari total tanaman tomatnya.
“Seharusnya bisa panen penuh, tapi karena harga jatuh, saya hanya panen separuh, sekitar 360 kilogram. Sisanya saya biarkan di kebun,” ujarnya, Senin (13/10/2025).
Menurut Khusnul, penurunan harga tomat tahun ini disebabkan oleh melimpahnya pasokan di pasaran. Kondisi seperti ini, katanya, memang sering terjadi setiap tahun antara September hingga November.
Baca juga : Pemkab Kediri Matangkan Administrasi Hibah Lahan untuk Sekolah Rakyat, Ini Penjelasan Wabub Maria Ulfa
Kalau sudah masuk musim panen raya seperti sekarang, harga pasti turun. Banyak petani akhirnya malas merawat tanaman karena percuma, hasilnya tidak menutup modal,” jelasnya.
Ia menuturkan, untuk satu kali masa tanam dengan sekitar 3.000 batang tomat, dibutuhkan modal hingga Rp12 juta sampai masa panen. Namun dengan harga yang terjun di bawah Rp1.000 per kilogram, hasil panen tidak mampu menutupi biaya produksi.
“Kerugiannya bisa sampai separuh modal. Dirawat pun tetap rugi,” tambahnya.
Dalam kondisi normal, Khusnul bisa menghasilkan lebih dari 6 ton tomat per musim. Namun karena perawatan dikurangi akibat harga rendah, produktivitas kali ini ikut menurun drastis.
Di tengah keterpurukan tersebut, Khusnul mengaku sedikit terbantu oleh langkah Pemerintah Kabupaten Jombang yang membeli sebagian hasil panen petani.
Baca jugav : Ribuan Peserta Meriahkan Jalan Sehat IKAPMII Kediri Raya di SLG, Wabup Maria Ulfa Beri Apresiasi
“Alhamdulillah, kemarin Pemkab membeli sekitar 1,5 kuintal tomat dengan harga Rp2.500 per kilogram. Lumayan membantu,” tuturnya.
Meski begitu, ia berharap pemerintah tidak hanya melakukan pembelian sesaat, tetapi juga menyiapkan solusi jangka panjang agar harga tomat lebih stabil di tingkat petani.
“Kalau bisa, hasil panen petani dimasukkan ke program cadangan pangan atau bantuan sosial. Biasanya mulai Januari–Februari stok tomat di pasaran mulai berkurang,” harapnya.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor : Hadiyin





