Jenin, LINGKARWILIS.COM – Sebuah film dokumenter terbaru mengungkap nama tentara Israel yang diyakini menembak mati jurnalis senior Al Jazeera asal Palestina, Shireen Abu Akleh, ketika tengah meliput operasi militer di Jenin, Tepi Barat, dua tahun silam.
Film produksi Zeteo Media tersebut tidak hanya mengungkap identitas penembak, tetapi juga menyingkap dugaan keterlibatan pemerintah Amerika Serikat dalam menahan laju proses akuntabilitas terhadap Israel.
Dilansir dari laman Minanews, dokumenter yang disutradarai oleh jurnalis investigatif Dion Nissenbaum—mantan koresponden The Wall Street Journal—menyebut nama Alon Skajio, prajurit Israel berusia 20 tahun, sebagai pelaku penembakan terhadap Abu Akleh pada Mei 2022. Saat itu, Skajio disebut tengah menjalani misi tempur pertamanya dalam operasi militer di wilayah pendudukan.
Baca juga : Geger !! Warga Kandat Ditemukan Meninggal di Depan Pos Jaga Gudang UD Dwi Jaya Kediri
Jurnalis Al Jazeera, Bisan Abu Kweik, yang juga tampil dalam dokumenter itu, menyatakan bahwa Skajio meninggal dunia pada pertengahan 2023 dalam baku tembak dengan pejuang Palestina—di kota yang sama tempat Abu Akleh kehilangan nyawa.
Film ini diproduksi di tiga lokasi strategis: Washington, Yerusalem, dan Jenin. Beberapa tokoh kunci turut hadir dalam dokumenter ini, termasuk Senator AS dari Partai Demokrat, Chris Van Hollen, yang secara aktif mendorong penyelidikan independen atas insiden tersebut.
Selain menghadirkan wawancara eksklusif dengan berbagai narasumber penting, film ini juga membuka kesaksian-kesaksian baru dari individu yang sebelumnya belum pernah berbicara di hadapan publik tentang kasus Abu Akleh.
Baca juga : Kelurahan Burengan Tegaskan Komitmen Layanan Prima, Dukung Visi Wali Kota Kediri
Shireen Abu Akleh gugur pada 11 Mei 2022 saat meliput operasi militer Israel. Awalnya, pihak militer Israel membantah bertanggung jawab dan menuding tembakan berasal dari kelompok militan Palestina. Namun, serangkaian investigasi independen oleh media dan lembaga hak asasi manusia menyimpulkan bahwa peluru mematikan itu sangat mungkin berasal dari pasukan Israel.
Meski kemudian pihak militer Israel mengakui kemungkinan tersebut, proses hukum terhadap pelaku hingga kini tak kunjung terlaksana.
“Dokumenter ini menunjukkan bukti yang semakin kuat bahwa Shireen bukan korban tembakan nyasar, melainkan sengaja menjadi target—sebagaimana banyak jurnalis Palestina lainnya,” kata Nissenbaum dalam keterangannya. Ia menambahkan, lebih dari 200 jurnalis Palestina telah tewas akibat serangan Israel sejak kematian Shireen.***
Editor : Hadiyin





