Pedagang Daging Sapi Kediri Keluhkan Omzet Merosot hingga 50 Persen, Salah Satunya Karena Pogram MBG

Program MBG Menyasar Pasar, Pedagang Daging Sapi Kediri Keluhkan Omzet Merosot hingga 50 Persen
Salah satu pedagang daging di Pasar setonobetek ( Bidu)

KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Aktivitas ekonomi di pasar tradisional Kota Kediri mengalami perlambatan. Pedagang daging sapi di Pasar Setono Betek dan sejumlah pasar lainnya mengaku terdampak penurunan penjualan cukup tajam, dengan omzet anjlok hingga lebih dari 50 persen dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi tersebut beriringan dengan mulai berjalannya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta meningkatnya pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan pendidikan setelah masa libur sekolah. Dua faktor ini disebut turut memengaruhi daya beli konsumen di pasar tradisional.

bayar PBB Kota Kediri

Suroyo (70), pedagang daging sapi asal Kelurahan Betet yang telah puluhan tahun berjualan di Pasar Setono Betek, mengungkapkan penurunan penjualan yang sangat drastis.

“Biasanya bisa habis sampai dua kuintal sehari. Sekarang paling banyak terjual 25 sampai 30 kilogram. Penurunannya lebih dari separuh,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).

Baca juga : Produksi Ikan Hias Kabupaten Kediri 2025 Tembus Rp960,4 Miliar

Ia menilai, perubahan jalur distribusi daging sejak Program MBG berjalan menjadi salah satu penyebab utama. Menurut Suroyo, penyedia MBG kini lebih memilih membeli langsung dari rumah pemotongan hewan atau jagal besar, sehingga pedagang eceran di pasar tidak ikut terserap.

“MBG belanjanya langsung ke jagal. Pedagang pasar jadi kehilangan pelanggan tetap,” katanya.

Hal senada disampaikan Endang Sri Utami (32), pedagang daging sapi asal Desa Beduk, Kecamatan Ngadiluwih. Ia mencatat omzet penjualannya turun sekitar 25 hingga 35 persen dalam satu bulan terakhir.

Meski demikian, Endang menyebut harga daging sapi di Kediri masih relatif stabil berkat pengawasan pemerintah daerah. Saat ini, harga daging sapi kualitas standar berada di kisaran Rp110 ribu per kilogram, sementara jenis premium seperti has dalam mencapai Rp135 ribu per kilogram.

“Harga dan stok sebenarnya aman. Yang berat itu pembelinya berkurang drastis. Selain dampak MBG, pengeluaran sekolah pascalibur juga cukup menguras keuangan warga,” jelasnya.

Baca juga : Panen Perdana Urban Farming di Kecamatan Mojoroto, Arahan Wali Kota Kediri Vinanda Terwujud Nyata

Di tengah kondisi tersebut, para pedagang berharap datangnya bulan Ramadan dan Idul Fitri dapat kembali menggerakkan pasar. Momentum tersebut selama ini dikenal mampu meningkatkan permintaan daging secara signifikan.

“Kalau sudah puasa dan Lebaran biasanya pasar kembali ramai. Kami berharap pemerintah juga memberi perhatian pada pedagang kecil agar tidak tersisih oleh sistem distribusi skala besar,” ucap Suroyo.***

Reporter: Agus Sulistyo Budi
Editor: Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://soleco-energy.com/ https://zonawin777top.com/ https://dwpcabdinkabmlg.com/bidang-sosial-budaya-eval/ https://lingkarwilis.com/mail/ https://onlymyenglish.com/about-us/ https://www.ramanhospital.in/about.html https://umbi.edu/visit/ https://dkpbuteng.com/ https://rsiaadina.com/ https://inl.co.id/about-us/ situs toto