Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Di tengah maraknya sajian kuliner kekinian, serabi khas Ponorogo tetap mampu mempertahankan eksistensinya. Rasa gurih yang khas serta proses pengolahan yang masih mengandalkan metode tradisional menjadi daya tarik utama yang membuat jajanan ini bertahan dari generasi ke generasi.
Salah satu sentra produksi serabi tradisional berada di kawasan Kerun Ayu, Desa Ploso Jenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Lokasi tersebut hampir setiap hari ramai dikunjungi pembeli dari berbagai kalangan, terlebih saat menjelang waktu berbuka puasa.
Endang Tatik, perajin serabi setempat, mengaku telah menekuni usaha tersebut selama lebih dari 20 tahun. Ia melanjutkan usaha keluarga yang sudah dijalankan secara turun-temurun.
Menurut Endang, serabi Ponorogo memiliki perbedaan mencolok dibandingkan serabi dari daerah lain seperti Surakarta maupun Bandung. Jika di daerah lain cenderung bercita rasa manis, serabi Ponorogo justru dikenal dengan rasa gurihnya.
Baca juga : Pemkot Kediri Salurkan PKH Plus Tahap I 2026, Sebanyak 485 Lansia Terima Bantuan
Bahan yang digunakan pun terbilang sederhana, yakni tepung beras, kelapa parut, dan garam. Meski demikian, perpaduan resep tersebut menghasilkan rasa khas yang sulit ditiru.
Dalam sehari, Endang mampu menghabiskan sekitar 20 liter adonan, setara dengan 40 kali proses pembuatan. Serabi dimasak menggunakan tungku berbahan kayu bakar, teknik tradisional yang dipercaya mampu menjaga cita rasa sekaligus menghadirkan aroma yang lebih autentik.
Untuk penyajiannya, serabi diberi taburan kelapa muda parut tanpa tambahan topping lain.
Serabi tersebut dijual dengan harga Rp5.000 per porsi. Dengan harga tersebut, pembeli mendapatkan dua buah serabi lengkap dengan taburan kelapa muda.
Harga yang terjangkau serta rasa yang konsisten membuat jajanan tradisional ini tetap diminati masyarakat.
Baca juga : Satlantas Polres Kediri Kota Sampaikan Pesan Disiplin Lalu Lintas di Masjid Setono Gedong, Ini Acaranya
Salah satu pelanggan, Mirda Naurinsya, mengaku kerap membeli serabi di Kerun Ayu karena rasanya gurih dan teksturnya lembut. Ia menilai proses pembuatan secara tradisional turut menambah kelezatan serabi tersebut.
“Rasanya lebih enak dibandingkan serabi dari daerah lain, gurih dan punya ciri khas sendiri,” ujarnya.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor





