Tayangan Trans7 Singgung Ponpes Lirboyo, Dinilai Melecehkan dan Tuai Kecaman Kiai Kediri

Tayangan Trans7 Singgung Ponpes Lirboyo, Dinilai Melecehkan dan Tuai Kecaman Kiai Kediri
Pengasuh Ponpes Roudhotul Ibaad, KH Basori Alwi saat memberikan keterangan (rizky)

Kediri, LINGKARWILIS.COM – Tagar #BoikotTrans7 menjadi trending di platform media sosial X (Twitter) setelah salah satu program stasiun televisi swasta itu menayangkan video yang dinilai melecehkan Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, pada Senin malam (13/10/2025).

Ponpes Lirboyo dikenal sebagai salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Indonesia. Berdiri sejak tahun 1910, pesantren ini didirikan oleh KH. Abdul Karim dan hingga kini menjadi pusat pendidikan Islam tradisional di Kediri.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Tayangan yang memicu kontroversi tersebut menampilkan narasi dan visual yang dianggap tidak etis terhadap pesantren, sehingga menimbulkan kemarahan di kalangan alumni, keluarga besar pesantren, hingga masyarakat Kediri yang memiliki kedekatan emosional dengan Lirboyo.

Baca juga : Pura-pura Jadi Wali Santri, Pencuri Spesialis Ponpes Ditangkap di Kepung Kediri

Menanggapi hal itu, KH. Basori Alwi, Pengasuh Ponpes Roudhotul Ibaad, Dusun Kaliawen Timur, Desa Ngino, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus mengecam tayangan tersebut.

“Kami meminta kepada Dewan Pers dan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk mencabut izin siar Trans7, karena narasi yang ditayangkan sangat menyinggung para santri,” tegasnya, Selasa (14/10/2025).

Menurut Gus Basori, pesantren selama ini merupakan lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai adab dan akhlak, bukan tempat eksploitasi seperti yang disiratkan dalam tayangan tersebut.

“Sejak dulu pesantren mendidik santri agar berbakti dan hormat kepada guru. Santri tahu betapa mahalnya ilmu, bahkan rela mengorbankan sebagian hartanya untuk berkhidmat kepada kiai,” ujarnya.

Baca juga : Pemakaman Umum Kelurahan Tosaren, Kota Kediri, Penuh, Terpaksa, Satu Liang Digunakan untuk Delapan Jenazah

Ia menambahkan, dalam tradisi pesantren, santri bahkan enggan melintas di depan rumah kiai karena menjaga sopan santun. Oleh sebab itu, tudingan bahwa pesantren memperbudak santri dinilainya sebagai bentuk ketidaktahuan terhadap kultur pendidikan Islam.

“Bahasa perbudakan itu lahir dari mereka yang tidak paham ilmu. Di pesantren, santri justru berbahagia bisa melayani gurunya karena merasa tidak mampu membalas jasa ilmu yang diberikan,” tambahnya.

Gus Basori juga meminta Presiden RI turun tangan dan menegur pihak televisi agar lebih berhati-hati serta bijak dalam menayangkan konten yang berkaitan dengan lembaga keagamaan.

“Kalaupun pihak televisi meminta maaf, itu belum cukup. Karena berita yang sudah tersebar luas sulit diluruskan kembali,” ujarnya.

Ia menegaskan, tuntutan pencabutan izin siar Trans7 tetap akan disuarakan sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap marwah pesantren.

“Kami tetap meminta pemerintah mencabut izin siar Trans7,” pungkasnya.***

Reporter: Rizky Rusdiyanto

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *