Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Isu dugaan pungutan liar kembali mencuat di lingkungan pendidikan Ponorogo. Setelah polemik di SMK N 1 Ponorogo belum mereda, kini giliran SMK N 2 Ponorogo menjadi sorotan publik.
Sebuah unggahan dari wali murid yang identitasnya disamarkan di akun Instagram @halopendidikan memantik perdebatan setelah menuding adanya pungutan hampir Rp4 juta di sekolah tersebut.
Unggahan yang cepat menyebar itu mendapatkan lebih dari 700 tanda suka, dibanjiri puluhan komentar, dan telah dibagikan ratusan kali.
Menanggapi viralnya isu tersebut, pihak SMK N 2 Ponorogo menegaskan bahwa tuduhan pungutan jutaan rupiah itu tidak benar.
“Tidak ada sumbangan sebesar Rp4 juta seperti yang beredar. Itu tidak pernah terjadi,” ujar Wakil Kepala Bidang Humas SMKN 2 Ponorogo, Sri Sumariyana, Kamis (11/12/2025).
Baca juga : PJU dan Kapolsek di Polres Kediri Antusias Ikuti Latihan Dalmas di Bawah Terik Matahari
Menurut Ana sapaan akrabnya kwitansi Rp1,5 juta yang disebut dalam aduan adalah kontribusi sukarela dari wali murid. Nilainya tidak ditentukan sekolah dan diisi berdasarkan kemampuan masing-masing orang tua.
“Itu ditulis sendiri oleh wali murid sesuai kemampuan. Tidak ada batas minimal atau tenggat pembayaran karena sifatnya sukarela,” jelasnya.
Ana menduga munculnya keluhan tersebut dipicu kesalahpahaman. Wali murid yang mengadukan disebut sedang berada di luar negeri, sementara suaminya yang mewakili hadir dalam rapat pleno komite. Rapat itu pun melibatkan aparat penegak hukum (APH) untuk memastikan transparansi.
“Ini murni sumbangan sukarela, bukan paksaan. Sepertinya ada informasi yang tidak tersampaikan dengan baik sehingga terjadi salah pengertian,” tambahnya.
Baca juga : Keterbatasan Air Bersih Teratasi, Polres Kediri Bangun Sumur Bor di Masjid Al-Kautsar Kayen Kidul
Ia menegaskan bahwa sekolah tidak pernah menagih sumbangan dan jumlahnya berbeda-beda antar wali murid, sesuai kemampuan masing-masing keluarga.
Sumbangan tersebut, kata Ana, digunakan untuk pembangunan ruang di lantai dua. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipasi mengingat sekolah berada di kawasan yang kerap terdampak banjir. Proyek pembangunan itu juga telah melalui persetujuan komite sekolah.
“Ruangan baru di lantai dua ini memang diperlukan sebagai langkah mitigasi jika banjir kembali terjadi,” tutupnya.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin





