Warga Jogoroto Gelar Doa Bersama untuk Korban Penganiayaan, Wujud Kepedulian di Tengah Duka

Warga Jogoroto Gelar Doa Bersama untuk Korban Penganiayaan, Wujud Kepedulian di Tengah Duka
Warga tetangga almarhumah Choiriah alias Puji di Jogoroto, Jombang yang adakan tahlilan di depan garis polisi rumah kos korban penganiayaan, Rabu (17/6/2026) sore. (Taufiqur Rachman).

Jombang, LINGKARWILIS.COM – Warga Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, menggelar doa bersama dan tahlilan untuk mendoakan almarhumah Choiriah alias Puji (47), korban dugaan penganiayaan yang meninggal dunia dan diduga dilakukan oleh kakak kandungnya sendiri.

Kegiatan tersebut berlangsung kemarin, bertepatan dengan tujuh hari wafatnya korban. Meski area rumah kos tempat kejadian masih dipasangi garis polisi, warga tetap melaksanakan tahlilan di luar batas police line sebagai bentuk penghormatan dan kepedulian.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Dari pantauan di lokasi, sejumlah ibu-ibu tampak berkumpul di depan rumah kos dengan beralaskan tikar sambil melantunkan doa dan tahlil untuk almarhumah. Salah seorang warga juga secara sukarela menyediakan nasi kotak yang dibagikan kepada para jamaah yang hadir.

Aksi tersebut mendapat perhatian karena almarhumah bukan merupakan warga asli setempat. Choiriah diketahui baru sekitar dua pekan tinggal di rumah kos tersebut bersama kakak kandungnya berinisial S (61), yang kini telah diamankan dan menjalani proses hukum di Polres Jombang.

Baca juga : KAI Amankan Aset Senilai Rp52,2 Miliar, Terima 23 Sertifikat Elektronik dari BPN Kabupaten Kediri

Salah satu warga, Khusnia, yang memimpin doa bersama, mengatakan kegiatan tersebut murni dilandasi rasa kemanusiaan dan kebersamaan antarwarga tanpa memandang asal-usul seseorang.

“Di sini kalau ada warga atau pendatang yang meninggal dunia, kami tetap bersama-sama menggelar tahlilan dan mendoakan,” ujarnya usai kegiatan.

Menurut Khusnia, warga memang belum mengenal dekat sosok Choiriah karena baru tinggal di lingkungan tersebut dan kondisi korban yang merupakan penyandang tunagrahita membuat interaksi dengan masyarakat sekitar cukup terbatas.

“Kesehariannya kami tidak begitu mengetahui karena beliau masih baru tinggal di sini. Kami hanya sesekali melihatnya,” katanya.

Ia menambahkan, meskipun lokasi masih dipasangi garis polisi dan cuaca sempat diguyur gerimis, warga tetap berkomitmen melaksanakan doa bersama hingga selesai sebagai bentuk penghormatan kepada almarhumah.

“Kami tetap melaksanakan tahlilan di luar garis polisi. Meski gerimis, kegiatan tetap berjalan sebagai doa tujuh harian,” tambahnya.

Baca juga : Momentum Bulan Suro, Kapolres Kediri Ajak Masyarakat Perkuat Kamtibmas dan Kerukunan

Kegiatan doa bersama tersebut menjadi bentuk solidaritas masyarakat di tengah proses hukum yang masih berlangsung dan menyita perhatian publik di Kabupaten Jombang.

Sementara itu, Polres Jombang telah mengamankan S (61), yang diduga melakukan penganiayaan terhadap korban. Dugaan tersebut menguat setelah hasil autopsi forensik dan keterangan sejumlah saksi tidak sejalan dengan pengakuan awal bahwa korban meninggal akibat terpeleset di kamar mandi.

Saat ini, penyidik masih melanjutkan proses hukum untuk mengungkap secara menyeluruh peristiwa yang menyebabkan meninggalnya Choiriah.***

Reporter : Taufiqur Rachman

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *