Seorang Anak di Tulungagung Diduga Terpapar Paham Radikalisme, Pendampingan Intensif Dilakukan

Seorang Anak di Tulungagung Diduga Terpapar Paham Radikalisme, Pendampingan Intensif Dilakukan
Kepala UPT Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Tulungagung, Dwi Yanuarti saat memberikan pernyataan terkait pendampingan anak yang terpapar faham radikalisme (isal)

Tulungagung, LINGKARWILIS.COM – Seorang anak di Kabupaten Tulungagung diduga terpapar paham radikalisme melalui game online yang dimainkan di telepon genggamnya. Saat ini, proses pendampingan dan pemantauan intensif terus dilakukan oleh instansi terkait guna memulihkan kondisi psikologis anak tersebut.

Kepala UPT Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Tulungagung, Dwi Yanuarti, mengatakan kasus tersebut mulai terdeteksi sejak akhir tahun 2025 lalu. Sejak saat itu, pihaknya melakukan pendampingan secara berkala kepada anak maupun keluarganya.

bayar PBB Kota Kediri

Menurut Dwi, proses pendampingan berjalan cukup baik dan kondisi anak saat ini dinilai stabil dengan pengawasan yang terus dilakukan secara maksimal. Ia juga menilai anak tersebut memiliki kemampuan di bidang digital yang perlu diarahkan melalui kegiatan positif.

“Kami melihat anak ini memiliki potensi di bidang digital. Potensi tersebut harus diarahkan ke hal-hal positif melalui wadah yang tepat,” ujar Dwi Yanuarti, Minggu (17/5/2026).

Baca juga : Peredaran Rokok Ilegal di Tulungagung Beralih ke Media Sosial, Satpol PP Intensifkan Pemantauan

Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis, lanjut Dwi, tidak ditemukan indikasi kuat terkait kecenderungan radikalisme pada diri anak tersebut. Keterlibatan korban dalam grup media sosial yang menyimpang disebut lebih dipengaruhi faktor pencarian jati diri dan kebutuhan validasi di usia remaja.

Meski demikian, pihaknya tetap melakukan langkah cepat karena aktivitas dalam grup tersebut diduga menjadi tahap awal proses doktrinasi atau cuci otak.

Beruntung, pola pergerakan jaringan tersebut dapat dideteksi lebih awal sehingga tidak berkembang menjadi pemahaman radikal yang lebih ekstrem.

“Sistem pendampingan terus kami lakukan secara berkala untuk mengevaluasi metode pemulihan yang paling sesuai,” jelasnya.

Selain pendampingan langsung, pihaknya juga aktif menjalin komunikasi dengan anak dan orang tuanya melalui pesan singkat untuk memantau perkembangan kondisi psikologis korban.

Dwi menegaskan, pihaknya tidak membatasi minat anak terhadap game, melainkan lebih fokus memberikan arahan agar tidak memicu sikap pemberontakan.

Menurutnya, pendekatan humanis seperti mengajak anak beraktivitas di luar rumah dan membangun kedekatan emosional terbukti efektif meningkatkan rasa percaya dirinya.

Baca juga : Pecinta Aglonema dan Anthurium Tumplek Blek Hadiri Lelang Tanaman Hias Keliling di Kediri

Saat ini, kondisi anak disebut semakin membaik. Selain lebih ceria, anak tersebut juga dikenal memiliki prestasi akademik yang baik dan kemampuan bahasa Inggris yang cukup menonjol.

“Anak-anak sekarang jika terlalu dikekang justru bisa memicu ledakan emosi seperti bom waktu. Perubahan perilaku ini menjadi sinyal positif bahwa proses pemulihan berjalan sesuai rencana intervensi psikologis yang kami lakukan,” pungkasnya.***

Reporter: Mochammad Sholeh Sirri

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://soleco-energy.com/ https://zonawin777top.com/ https://dwpcabdinkabmlg.com/bidang-sosial-budaya-eval/ https://lingkarwilis.com/mail/ https://onlymyenglish.com/about-us/ https://www.ramanhospital.in/about.html https://umbi.edu/visit/ https://dkpbuteng.com/ https://rsiaadina.com/ https://inl.co.id/about-us/ situs toto