Tulungagung, LINGKARWILIS.COM β Penurunan elevasi permukaan air di Bendungan Wonorejo, Kabupaten Tulungagung, mulai berdampak terhadap operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Wonorejo. Meski demikian, pasokan air baku dan kebutuhan irigasi bagi masyarakat hingga kini dipastikan masih dalam kondisi aman.
Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Sungai Brantas 2 Perum Jasa Tirta I, Nina Meitasari, mengatakan penurunan debit air mulai terjadi sejak memasuki musim kemarau. Saat ini, elevasi permukaan air bendungan tercatat turun sekitar 10 meter dibandingkan kondisi sebelum musim kemarau.
Ia menjelaskan, sebelumnya elevasi air berada di kisaran 179 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan berdasarkan pemantauan terbaru telah berada di angka 169,74 mdpl.
“Secara teknis, kondisi ini tidak memengaruhi pemenuhan kebutuhan air baku maupun irigasi untuk masyarakat Tulungagung dan wilayah sekitarnya,” ujar Nina, Rabu (1/7/2026).
Baca juga :Β Lima Pantai di Tulungagung Tak Lagi Tarik Retribusi, PAD Pariwisata Terancam Turun Lebih dari 50 Persen
Namun, lanjutnya, penurunan elevasi tersebut berpengaruh terhadap kinerja PLTA Wonorejo. Berkurangnya volume air yang mengalir ke turbin membuat waktu operasional pembangkit harus dikurangi secara signifikan.
Jika sebelumnya PLTA mampu beroperasi antara delapan hingga 24 jam per hari saat ketinggian air optimal, kini pembangkit hanya dijalankan sekitar lima jam setiap hari. Pengoperasian difokuskan pada periode beban puncak, yakni mulai pukul 19.00 WIB hingga 24.00 WIB.
Dalam durasi tersebut, PLTA Wonorejo mampu menghasilkan daya listrik sekitar 5,7 megawatt (MW), sedikit di bawah kapasitas maksimal pembangkit yang mencapai 6,3 MW.
“Saat elevasi air berada di kisaran 180 mdpl atau lebih, PLTA dapat beroperasi penuh selama 24 jam. Namun dengan kondisi sekarang, operasional harus disesuaikan,” jelasnya.
Meski berdampak pada pembangkitan listrik, Nina memastikan kondisi tersebut masih sesuai dengan pola pengelolaan Bendungan Wonorejo yang telah disusun dalam rencana alokasi air tahunan. Sebagai bendungan bertipe tahunan, tampungan air memang dioptimalkan pada musim hujan untuk kemudian dimanfaatkan selama musim kemarau.
Baca juga :Β Sebanyak 11 Jalan Alternatif di Tulungagung Akan Dipasangi Portal Pembatas Ketinggian Kendaraan
Sesuai perencanaan yang telah disusun sejak awal 2026, Perum Jasa Tirta I menargetkan elevasi air tetap terjaga hingga batas minimal 141 mdpl. Apabila ketinggian air mendekati batas tersebut, operasional PLTA akan kembali disesuaikan berdasarkan ketentuan dalam manual operasi bendungan.
“Perhitungan tersebut berlaku dengan asumsi tidak ada tambahan debit air yang masuk dari sungai. Ketika musim hujan kembali tiba dan terjadi peningkatan inflow, kami akan melakukan pengisian kembali sesuai pola operasi bendungan,” pungkasnya.***
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor : Hadiyin





