Wamenko Pangan Panen Jagung di Ponorogo, Ajak Daerah Perkuat Swasembada Pangan Nasional

Wamenko Pangan Panen Jagung di Ponorogo, Ajak Daerah Perkuat Swasembada Pangan Nasional
Wamenko Hanif Faisol Nurofiq bersama Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita saat panen jagung (Sony)

Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, melakukan panen jagung bersama Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, di lahan Perhutani Kelurahan Ronosentanan, Kecamatan Siman, Sabtu (4/7/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat program swasembada pangan nasional.

Kelurahan Ronosentanan merupakan salah satu sentra produksi jagung di Kabupaten Ponorogo dengan luas lahan tanam mencapai sekitar 198 hektare.

Dalam kesempatan itu, Lisdyarita menyampaikan bahwa sektor pertanian di Ponorogo terus menunjukkan kinerja positif. Sepanjang 2025, luas panen jagung tercatat mencapai sekitar 39 ribu hektare dengan produksi sebesar 284 ribu ton. Sementara itu, luas panen padi mencapai 74 ribu hektare dengan total produksi sekitar 436 ribu ton.

“Capaian itu menjadikan Ponorogo sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Jawa Timur. Indeks Ketahanan Pangan kita juga mencapai 71,22 poin. Semua itu tidak lepas dari kerja keras para petani yang terus berinovasi,” ujarnya.

Baca juga :Β Kuota SD Sekolah Rakyat di Ponorogo Baru Terisi Separuh, Jenjang SMP dan SMA Sudah Penuh

Sementara itu, Hanif Faisol Nurofiq mengajak pemerintah daerah bersama para petani untuk terus mengawal program swasembada pangan. Menurutnya, produksi jagung nasional pada 2025 mengalami peningkatan hingga mencapai 16,16 juta ton jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen. Pemerintah juga menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung sebesar Rp5.500 per kilogram.

Selain itu, produksi beras nasional telah menembus lebih dari 34,69 juta ton atau melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berkisar antara 30 hingga 32 juta ton per tahun. Kondisi tersebut menjadi dasar pemerintah untuk tetap mempertahankan kebijakan tidak mengimpor beras maupun jagung.

“Pemerintah sangat serius membangun ketahanan pangan. Karena itu kebijakan tidak mengimpor beras dan jagung harus didukung seluruh daerah,” kata Hanif.

Ia menilai Ponorogo memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dengan luas lahan pertanian sekitar 35 ribu hektare, petani di daerah tersebut mampu menerapkan intensitas tanam hingga hampir tiga kali dalam setahun, yakni dua kali padi dan satu kali jagung.

Baca juga :Β Kabag Operasional II MKSO Tinjau Kebun Dhoho Kediri, Evaluasi Kinerja Operasional di Musim Panen Tebu

Hanif juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas. Di samping itu, ia mendorong keterlibatan generasi muda agar sektor pertanian semakin maju, efisien, dan mampu menjawab tantangan ketahanan pangan di masa mendatang.

“Kalau masih menggunakan cara-cara konvensional, hasilnya tidak akan efisien. Teknologi harus dimanfaatkan agar ketahanan pangan semakin kuat,” pungkasnya.***

Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *