Ponorogo, LINGKARWILIS.COM β Peternak ayam petelur di Kabupaten Ponorogo menghadapi tekanan akibat merosotnya harga telur dalam dua pekan terakhir. Harga jual di tingkat peternak kini hanya berkisar Rp18 ribu per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah yang sebesar Rp26.500 per kilogram.
Salah seorang peternak ayam petelur di Kecamatan Mlarak, Ahmad Sarbini, mengatakan penurunan harga dipicu melemahnya permintaan pasar. Memasuki bulan Suro atau Muharram, aktivitas hajatan masyarakat menurun sehingga kebutuhan telur ikut berkurang.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin diperparah dengan penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah. Akibatnya, penyerapan telur menurun, sementara produksi peternak tetap berjalan sehingga stok menumpuk di kandang.
“Di wilayah kami sekarang hampir tidak ada hajatan karena bulan Suro. Program MBG juga libur, sehingga produksi lebih banyak daripada kebutuhan. Di sisi lain harga pakan terus naik, tetapi harga telur justru turun,” ujar Sarbini, Selasa (30/6/2026).
Baca juga :Β Enam Bulan Bergulir, Kejari Ponorogo Belum Tetapkan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Bansos Dinsos P3A
Meski harga terus merosot, para peternak tetap menjual hasil produksinya karena telur memiliki masa simpan yang terbatas. Menahan stok terlalu lama justru berisiko menurunkan kualitas telur dan menambah kerugian.
“Yang penting telur bisa keluar dari kandang. Kalau ditahan terlalu lama juga tidak bisa karena kualitasnya akan menurun,” katanya.
Sarbini berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk membantu menyerap kelebihan pasokan telur. Salah satu usulan yang disampaikan adalah menggelar bazar telur di setiap kecamatan agar stok di kandang dapat berkurang sekaligus membantu masyarakat memperoleh telur dengan harga terjangkau.
Baca juga :Β Diduga Akibat Korsleting Listrik, Gudang Pabrik Rokok Gudang Rasa di Kediri Terbakar
“Kalau ada bazar, setidaknya bisa membantu mengurangi penumpukan telur di kandang sehingga peternak tidak semakin merugi,” pungkasnya.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor : Hadiyin





