Tulungagung, LINGKARWILIS.COM – Aktivitas pengamatan burung migrasi dilakukan oleh mahasiswa bersama petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di wilayah Kabupaten Tulungagung. Dari hasil pemantauan, tercatat sedikitnya enam jenis burung migran yang singgah di daerah tersebut selama musim dingin di habitat asalnya.
Ketua Mapala Himalaya UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung, Fazal Marzuki, mengaku baru pertama kali terlibat langsung dalam kegiatan pengamatan burung migrasi. Meski sebelumnya telah mengetahui adanya fenomena migrasi burung ke Tulungagung, pengalaman turun langsung ke lapangan memberikan pemahaman yang lebih mendalam.
“Ini pengalaman pertama saya mengamati burung migrasi secara langsung. Kegiatannya cukup menarik karena kami bisa melihat langsung aktivitas dan perilaku alami burung-burung tersebut,” ujar Fazal, Selasa (13/1/2026).
Baca juga : Antisipasi Pohon Tumbang, DLHKP Kota Kediri Lakukan Pemangkasan di Jalan Brigjend Katamso
Melalui kegiatan ini, para mahasiswa memperoleh pengetahuan baru mengenai berbagai jenis burung migrasi, termasuk kebiasaan dan perilaku mereka selama singgah di wilayah tropis. Hal tersebut dinilai mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian satwa liar.
Sementara itu, Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri BKSDA Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra, menjelaskan bahwa kegiatan pengamatan ini bertujuan mengenalkan mahasiswa pada aktivitas burung migran di alam bebas, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap upaya konservasi.
Dalam pengamatan yang dilakukan di area persawahan Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo, Tulungagung, ditemukan tiga jenis burung migrasi utama, yakni Trinil Pantai, Trinil Semak, dan Kicut Kerbau. Ketiga jenis burung tersebut berasal dari wilayah belahan bumi utara seperti China dan Rusia yang tengah mengalami musim dingin.
“Burung-burung ini bermigrasi dari daerah asalnya yang sedang mengalami musim dingin untuk beristirahat sekaligus mencari pakan di wilayah tropis,” jelas David.
Baca juga : Cegah Kerugian Pedagang, DKPP Kabupaten Kediri Siapkan Edukasi PMK di Pasar Hewan
Ia menyebutkan, periode migrasi burung-burung tersebut berlangsung sejak September hingga Oktober 2025, dan diperkirakan akan kembali ke habitat asalnya pada Maret hingga April 2026. Menjelang akhir masa migrasi, dapat diamati perubahan fisik berupa tumbuhnya bulu berbiak yang menandakan kesiapan burung untuk berkembang biak di habitat asalnya.
Selama berada di Tulungagung, burung migran cenderung memilih area persawahan yang masih tergenang air atau memasuki masa tanam. Kondisi tersebut dinilai ideal karena menyediakan sumber pakan yang melimpah.
“Perilaku burung migrasi dapat dikenali dari perubahan bulu yang muncul. Namun mereka tidak berkembang biak di sini, melainkan kembali ke wilayah asalnya,” tambahnya.
Selain tiga jenis tersebut, David mengungkapkan terdapat tiga jenis burung migran lain yang juga singgah di Tulungagung, yakni Cerek Kernyut, Cerek Kalung Kuning, dan Terik Asia. Dengan demikian, total terdapat enam jenis burung migrasi yang tercatat di Tulungagung dalam kurun dua tahun terakhir.
Dari seluruh jenis tersebut, burung Terik Asia tercatat sebagai spesies dengan jumlah individu terbanyak setiap tahun. Bahkan, dalam satu petak sawah pernah ditemukan hingga sekitar 5.000 ekor burung Terik Asia.
“Jika dalam tiga tahun berturut-turut populasinya tetap stabil dan dalam jumlah besar, maka wilayah ini akan kami usulkan sebagai jalur terbang migrasi burung Terik Asia,” ujarnya.
David menambahkan, jalur migrasi burung umumnya bersifat tetap karena burung telah mengenali rute dan merasa aman di lokasi persinggahan. Secara visual, burung migran dapat dibedakan dari burung lokal melalui bentuk paruh yang lebih panjang dan warna bulu yang cenderung monokrom.
“Kami terus melakukan pemantauan. Apabila populasinya konsisten selama tiga tahun, Tulungagung berpeluang ditetapkan sebagai jalur migrasi burung Terik Asia di Jawa,” pungkasnya.***
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Hadiyin






