PONOROGO, LINGKARWILIS.COM — Kejaksaan Negeri (Kejari) Ponorogo terus memburu keberadaan DSKW alias Lette, tersangka kasus kredit fiktif di BRI Unit Pasar Pon Cabang Ponorogo yang hingga kini belum memenuhi panggilan penyidik. Lette diduga menjadi bagian dari sindikat kredit fiktif yang telah merugikan negara hingga ratusan juta rupiah.
Kepala Seksi Intelijen Kejari Ponorogo, Agung Riyadi, mengungkapkan bahwa tersangka sudah dua kali dipanggil secara resmi, namun selalu mangkir tanpa keterangan.
“Tersangka belum menunjukkan itikad baik. Dua kali kita layangkan surat panggilan, tidak ada respons. Jika pada pemanggilan ketiga masih absen, akan langsung kami tetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO),” tegas Agung, Rabu (9/7/2025).
Lette disebut berperan sebagai pencari nasabah fiktif dalam sindikat tersebut. Ia bertugas mengumpulkan identitas calon debitur, yang kemudian diproses dokumennya oleh tersangka NAF, sedangkan pencairan dana dilakukan oleh SPP. Kedua tersangka tersebut saat ini sudah diamankan dan ditahan.
Baca juga : Apresiasi Prestasi Kota Kediri di Porprov, KONI Sidoarjo Berkunjung Lakukan Studi Banding
“Perannya jelas, merekrut dan mengatur data calon nasabah fiktif. Lalu berkasnya diolah dan dananya dicairkan oleh rekan-rekannya,” imbuh Agung.
Dalam proses penyidikan, Kejari Ponorogo telah memeriksa sedikitnya 45 saksi. Mereka berasal dari internal BRI, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), hingga pejabat struktural.
Meski demikian, Agung belum membeberkan secara rinci hasil pemeriksaan para saksi, termasuk potensi keterlibatan oknum dari instansi pemerintah.
“Untuk sementara, hasil pemeriksaan masih kami simpan sebagai bagian dari materi penyidikan. Soal dugaan keterlibatan pegawai Dispendukcapil, masih kami dalami,” ujarnya.
Baca juga : Soliditas Babinsa dan Bhabinkamtibmas Tosaren Jadi Contoh Harkamtibmas di Kota Kediri
Kasus ini menjadi perhatian publik karena melibatkan pemanfaatan data kependudukan untuk kepentingan kredit fiktif. Kejari memastikan akan menuntaskan penyidikan hingga ke akar permasalahan dan menjerat semua pihak yang terlibat.***
Reporter : Sony Prasetyo
Editor : Hadiyin






