New York, LINGKARWILIS.COM – Pasukan penjaga perdamaian PBB di Dataran Tinggi Golan Suriah (UNDOF) telah mencopot bendera Israel yang sebelumnya terpasang di zona penyangga. Langkah ini dilakukan menyusul protes yang dilayangkan oleh pejabat UNDOF, seperti disampaikan Juru Bicara PBB Stephane Dujarric dalam konferensi pers, Selasa (16/12).
“Pasukan penjaga perdamaian kami di Dataran Tinggi Golan terus menjalankan mandatnya untuk mengamati dan melaporkan dari seluruh area pemisahan,” ujar Dujarric.
Menurut laporan Anadolu Agency, bendera Israel terpantau di tiga lokasi dalam wilayah pemisahan, dan semuanya telah dicopot setelah adanya protes. Namun, kehadiran tentara Israel di zona ini berdampak serius pada operasi pasukan perdamaian PBB.
Dujarric menjelaskan bahwa kebebasan bergerak pasukan UNDOF sangat terbatas akibat aktivitas militer Israel. Operasi logistik dan tugas harian yang sebelumnya bisa mencapai 55–60 kali per hari kini hanya terbatas pada tiga hingga lima pergerakan logistik penting.
Baca juga : Meriahkan Hari Amal Bakti ke-79, Kemenag Kota Kediri Gelar Parade Budaya Nusantara dan Drumband
“Kami menekankan pentingnya memberikan kebebasan penuh kepada pasukan penjaga perdamaian untuk melaksanakan mandat mereka dengan aman dan tanpa hambatan,” tegas Dujarric.
UNDOF juga melaporkan bahwa pasukan Israel telah memasuki zona pemisahan dan mengerahkan militer di lokasi strategis, seperti Gunung Hermon dan “Tank Hill,” yang melanggar perjanjian pelepasan tahun 1974.
Dalam beberapa hari terakhir, Israel meningkatkan serangan udara di wilayah Suriah, menargetkan lokasi-lokasi militer yang diyakini sebagai ancaman strategis. Serangan ini terjadi setelah runtuhnya rezim Bashar Assad pada 8 Desember akibat tekanan kelompok oposisi.
Populasi Ternak Kabupaten Kediri Terjaga, Pasokan Aman hingga Akhir Tahun
Pelanggaran Israel terhadap perjanjian 1974, yang menetapkan zona penyangga demiliterisasi di Dataran Tinggi Golan, memicu kecaman dari PBB dan sejumlah negara Arab. Militer Israel telah meningkatkan kehadirannya di zona ini, yang memperburuk situasi keamanan regional.
PBB menyerukan semua pihak untuk mematuhi perjanjian pelepasan dan menjaga gencatan senjata demi stabilitas kawasan. “Perjanjian 1974 harus dihormati untuk mencegah eskalasi lebih lanjut,” ujar Dujarric.
Rangkaian ketegangan ini mencerminkan dinamika kompleks antara Israel dan Suriah, yang terus memengaruhi kestabilan geopolitik di Timur Tengah.***
Editor: Hadiyin





