Kediri, LINGKARWILIS.COM – Kemeriahan meliputi Lingkungan Kwangkalan, Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Minggu (5/10/2025). Sebanyak 11 set sound horeg lengkap dengan iringan tari dan joget massal turut memeriahkan gelaran pawai budaya.
Pawai dilepas langsung oleh Lurah Tempurejo, Oryza Mahendra Jaya, sekitar pukul 14.00 WIB. Rombongan peserta menempuh rute sejauh tiga kilometer yang membentang di kawasan setempat.
Dalam sambutannya, Oryza menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain sebagai ajang hiburan rakyat, kegiatan ini juga menjadi wadah mempererat tali silaturahmi serta menumbuhkan semangat persatuan di tengah masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, para pemuda diharapkan semakin kompak dan terhindar dari aktivitas yang kurang bermanfaat. Semoga acara berlangsung aman dan semakin semarak,” ujarnya.
Baca juga : Gerdal Jadi Andalan Petani Kabupaten Kediri Cegah Serangan Hama OPT
Oryza juga menuturkan bahwa pelaksanaan pawai sound horeg telah disepakati bersama seluruh warga.
“Bagi warga yang sedang sakit, kami telah menyiapkan tempat sementara atau bisa menumpang di rumah keluarga,” imbuhnya.
Ia berharap kegiatan tersebut bisa menjadi agenda rutin tahunan dengan dukungan aparat keamanan agar penyelenggaraan berjalan tertib dan berizin resmi.
“Selain menjadi hiburan, kegiatan ini juga menggerakkan roda ekonomi warga karena banyak pengunjung dari luar daerah yang datang,” tambahnya.
Sementara itu, Wakapolsek Pesantren AKP Katarina menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut.
Baca juga : Kodim 0809 Kediri Dapat Kejutan dari Polri di Momen HUT TNI ke-80
“Kami bersama unsur tiga pilar mengimbau agar kesepakatan yang telah dibuat dipatuhi bersama. Harapannya acara berjalan aman, tertib, dan lancar,” katanya.
Ketua RW 6, Budi Susilo, menjelaskan pawai diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari PAUD, TK, SD, hingga paguyuban pedagang dan wisata.
“Total ada 13 peserta, 11 di antaranya menampilkan sound horeg,” ujarnya.
Sejak pagi, warga Kwangkalan sudah bersiap. Mereka menata lapak pedagang, area parkir, dan mengatur jalur lalu lintas demi kelancaran acara.
Rute pawai dimulai dari Jalan Taman Wisata Sumber Banteng, melintasi Jalan Pringgodani, Kenanga, Kamboja, Kemuning, dan finis di Jalan Wijaya Kusuma.
Menurut Edi, salah satu warga, jalur utama pawai ditutup sementara dengan sistem buka-tutup bagi kendaraan lokal.
Baca juga : Pemkot Blitar Raih Investment Award 2025, Bukti Komitmen Wujudkan Iklim Investasi Kondusif
“Parkir disiapkan di Lapangan Tempurejo dan Jalan Kamboja. Untuk jalur alternatif, kendaraan dari arah Kamboja dialihkan ke Jalan Melati dan Kusuma, sementara dari arah Sumber Banteng diarahkan ke Jalan Carik Grojokan dan Kenanga Utara menuju Ketami dan Wonojoyo,” paparnya.
Sebelumnya, kegiatan cek sound hanya diikuti delapan RT, namun kali ini meningkat menjadi 11 set karena antusiasme masyarakat yang tinggi.
“Awalnya tiap RT wajib membawa satu set sound horeg, tapi karena banyak yang ingin ikut, jumlahnya bertambah,” jelas Edi.
Peserta lain, Andri, menyebut pawai ini sudah menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap tahun.
“Semua dibiayai swadaya oleh warga tiap RT. Selain sebagai hiburan, acara ini mempererat kebersamaan antarwarga,” tuturnya.
Panitia memastikan acara berjalan sesuai ketentuan dengan dukungan aparat keamanan.
“Pawai dibatasi hingga pukul 22.00 WIB. Harapannya, selain menjadi hiburan masyarakat, kegiatan ini juga memperkenalkan potensi wisata Tempurejo dan mendorong ekonomi warga,” ungkap salah satu panitia.
Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, warga Tempurejo berharap tradisi ini bisa terus berlanjut dan semakin semarak dari tahun ke tahun.***
Reporter : Agus Ely Burhan
Editor : Hadityin






