JOMBANG, LINGKARWILIS.COM – Kuliner tradisional Nusantara kembali menunjukkan daya tahannya di tengah maraknya jajanan modern. Salah satu yang tetap eksis adalah kue kembang goyang, atau yang kerap disebut kue antari. Camilan klasik ini justru semakin diburu saat Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri.
Di Kabupaten Jombang, perajin kembang goyang yang masih konsisten menjaga kualitas adalah Ika Trisna Savitri. Warga Jalan Sisingamangaraja Nomor 38, Dusun Jagalan, Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang ini melanjutkan usaha keluarga yang telah dirintis sejak 1996.
Vivi, sapaan akrabnya, menuturkan bahwa nama kembang goyang berasal dari bentuknya yang menyerupai kelopak bunga serta teknik memasaknya.
“Cetakan dicelupkan ke adonan lalu digoreng dengan cara digoyang-goyangkan agar adonan terlepas. Meski digoreng, hasilnya tetap renyah dan tidak berminyak,” ujarnya, Sabtu (28/2).
Baca juga : Operasi Pasar Murni Ramadan 1447 H, Pemkot Kediri Gelar 13 Titik OPM untuk Tekan Harga Bahan Pokok
Menurutnya, dahulu kue ini identik dengan hajatan seperti pernikahan, khitanan, atau acara keluarga besar. Namun kini, kembang goyang telah bertransformasi menjadi camilan favorit untuk konsumsi sehari-hari karena cita rasanya yang gurih dan renyah.
Harga yang relatif terjangkau juga menjadi daya tarik tersendiri. Vivi memasarkan produknya seharga Rp12.000 per kemasan 200 gram dan Rp7.000 untuk ukuran 80 gram. Sementara untuk pembelian minimal 50 bungkus, reseller mendapatkan harga khusus Rp11.000 per bungkus. Adapun pembelian dalam jumlah kilogram dibanderol sekitar Rp50.000.
Dalam satu kali produksi, satu adonan mampu menghasilkan kurang lebih 4 kilogram kue atau setara 20 bungkus. Permintaan meningkat signifikan saat Ramadan dan mendekati Lebaran. Bahkan, pemasarannya tidak hanya menjangkau wilayah Jombang, tetapi juga merambah luar kota hingga Jakarta.
Untuk menarik minat pasar yang lebih luas, khususnya kalangan muda, Vivi juga melakukan inovasi dengan menghadirkan beragam varian rasa dan warna yang lebih atraktif tanpa meninggalkan cita rasa khasnya.
Baca juga : Kinerja APBN Kediri Raya Januari 2026 : Pajak Tertekan, Penyaluran Kredit UMKM Menguat
Salah satu pelanggan setia, Sugiono, mengaku selalu memesan lebih awal agar tidak kehabisan stok menjelang Lebaran. “Renyah saat digigit, manisnya pas dan ada rasa gurih yang khas. Saya sengaja pesan sekarang untuk persiapan Lebaran,” katanya.
Dengan mempertahankan proses tradisional, kualitas rasa, serta harga yang bersahabat, kue kembang goyang produksi rumahan ini terus bertahan dan menjadi primadona di kalangan pecinta kuliner tradisional. Di tengah arus modernisasi, jajanan klasik ini membuktikan bahwa cita rasa autentik tetap memiliki tempat di hati masyarakat.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor : Hadiyin





