Lamongan, LINGKARWILIS.COM β Warga Desa Moronyamplung, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, mengeluhkan menurunnya pasokan air bersih yang selama ini disalurkan melalui Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPA). Mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani dan peternak menduga berkurangnya debit air dipicu oleh pemanfaatan pasokan air untuk kebutuhan operasional dua pabrik di sekitar desa.
Kondisi tersebut disebut telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir dan berdampak pada aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga sektor pertanian dan peternakan.
Salah seorang petani yang memiliki lahan di sekitar kawasan industri mengatakan debit air dari jaringan HIPPA mengalami penurunan cukup signifikan. Padahal, selama ini jaringan tersebut menjadi sumber utama kebutuhan air masyarakat.
“Sumber kebutuhan air untuk masyarakat saat ini mengalami penurunan. Kami menduga kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan air untuk aktivitas industri dua pabrik, yakni pabrik kardus dan pabrik sirup di sekitar desa melalui jalur HIPPA,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Baca juga :Β Dipercaya Jadi OB, Pria di Lamongan Diduga Bobol Brankas Majikan hingga Rugikan Rp100 Juta
Ia mengaku berkurangnya pasokan air berdampak langsung terhadap hasil pertaniannya. Tanaman melon yang dibudidayakan tidak memperoleh pengairan secara optimal sehingga produktivitas menurun dan menyebabkan kerugian.
“Harusnya pihak pabrik mengambil air PDAM dari Mojolagres, bukan mengambil dari HIPPA yang diperuntukkan bagi masyarakat dan petani setempat,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan seorang peternak yang mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk ternaknya. Menurutnya, jika kondisi tersebut terus berlanjut, produktivitas usaha peternakan warga akan ikut terdampak.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Lamongan segera melakukan pemeriksaan terhadap sumber air, sistem distribusi, serta memastikan pemanfaatan air oleh seluruh pihak telah sesuai dengan aturan yang berlaku.
“Kami minta agar pihak pabrik ditegur karena sudah merugikan masyarakat. Kami berharap ada solusi agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap menjadi prioritas,” ujarnya.
Baca juga :Β Pemkab Kediri Siapkan Lahan 300 Ru untuk Pengembangan SMP Negeri 2 Ngasem
Menanggapi keluhan tersebut, Penanggung Jawab Direktur Utama PDAM Lamongan, Syahril Muhammad Majidi, menjelaskan bahwa HIPAM Moronyamplung merupakan sistem penyediaan air yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat desa dan hingga kini belum menjalin kerja sama dengan PDAM Lamongan.
“HIPAM Moronyamplung belum bekerja sama dengan PDAM. HIPAM wilayah selatan yang sudah bekerja sama dengan PDAM adalah HIPAM Dusun Tempuran, Desa Puter,” kata Syahril.
Ia menegaskan, apabila HIPAM Moronyamplung memiliki kerja sama dengan pihak lain, hal tersebut berada di luar kewenangan PDAM Lamongan.
“PDAM tidak ikut-ikutan jika HIPAM Moronyamplung ada kerja sama dengan pihak lain, karena itu bukan domain kami,” tegasnya.
Syahril juga memastikan kapasitas pasokan air dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mojolagres masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, termasuk jika terjadi peningkatan konsumsi air.
“Pasokan air dari Mojolagres masih sangat mencukupi. Sehingga peningkatan pemakaian air bisa dipenuhi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sejumlah perusahaan di wilayah selatan Lamongan, yang meliputi Kecamatan Mantup, Kembangbahu, dan Tikung, telah menjadi pelanggan resmi PDAM.
“Ada satu perusahaan makanan dan juga ada satu perusahaan packaging yang sudah menjadi pelanggan PDAM,” tuturnya.
Hingga kini, keluhan warga terkait dugaan berkurangnya debit air HIPPA masih menjadi perhatian. Masyarakat berharap pemerintah segera melakukan penelusuran agar distribusi air bersih kembali normal dan kebutuhan warga tetap menjadi prioritas.***
Reporter : Surpapto
Editor : Hadiyin





