Jombang, LINGKARWILIS.COM – Di tepi jalan Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, berdiri tegak sebuah monumen bersejarah yang menjadi pengingat perjuangan para pahlawan republik.
Monumen berwarna putih setinggi sekitar 10 meter ini menjulang dengan simbol bintang di puncaknya dan dikenal sebagai Tugu Hajam Wuruk, penanda kemenangan pasukan TNI dalam Operasi Wingate Komando Hajam Wuruk pada masa revolusi kemerdekaan.
Diresmikan pada 10 November 1957, tugu ini dibangun untuk mengenang keberhasilan operasi penyusupan pasukan TNI yang dipimpin Mayor Pamoe Rahardjo dalam merebut kembali wilayah Pacet dan sekitarnya dari tangan Belanda.
Baca juga : Barongsai Tjoe Hwie Kiong Suguhkan Atraksi Spektakuler di Jalan Sehat Santri Sarungan Kota Kediri
Penelusur sejarah Jombang, Moch Faisol, menjelaskan bahwa pembangunan tugu tersebut merupakan simbol kemenangan strategis pasukan republik dalam perang gerilya.
“Operasi Wingate Komando Hajam Wuruk berhasil melumpuhkan kekuatan Belanda dan menguasai kembali wilayah Pacet sejak 1 Januari hingga 12 Februari 1949,” ujarnya, Minggu (2/11/2025).
Latar belakang operasi ini bermula ketika Kota Jombang jatuh ke tangan Belanda pada 29 Desember 1948, memaksa pasukan TNI melakukan perang gerilya. Menjelang pergantian tahun 1949, beberapa batalyon mendapat perintah untuk menyusup ke wilayah musuh di Pacet, Mojokerto, dalam misi yang kemudian dikenal sebagai Operasi Hajam Wuruk.
Baca juga : Dispertabun Kabupaten Kediri Pastikan Tanaman Aman dari Puso
Pertempuran besar pecah pada malam tahun baru, 1 Januari 1949, dan berakhir dengan kemenangan gemilang bagi pasukan republik. Mereka berhasil menguasai Pacet selama lebih dari sebulan—salah satu keberhasilan operasi gerilya terbesar di Jawa Timur saat itu.
Pasukan dalam Komando Hajam Wuruk terdiri dari berbagai kesatuan tempur, di antaranya:
-
Batalyon Bambang Yuwono (TKR)
-
Batalyon Mansyur Solichi (eks Hizbullah)
-
Batalyon Sucipto
-
Batalyon Isa Idris
-
Kesatuan Mobrig (Mobile Brigade)
-
Sebagian Batalyon Munasir (eks Hizbullah)
Faisol menambahkan, banyaknya keterlibatan pasukan eks Hizbullah asal Jombang menjadi alasan utama monumen ini didirikan di daerah tersebut.
“Sebagian besar kekuatan Komando Hajam Wuruk berasal dari pasukan eks Hizbullah Jombang. Karena itu, wajar jika tugu ini dibangun di sini sebagai bentuk penghormatan,” terangnya.
Meski akhirnya pada 13 Februari 1949 pasukan TNI harus mundur akibat serangan balik Belanda, kemenangan sebelumnya menjadi bukti kekuatan strategi dan semangat juang para prajurit republik.
Kisah perjuangan ini kemudian diabadikan dalam buku berjudul “Gerilya dan Diplomasi, Operasi Hayam Wuruk: Sebuah Epik Dalam Revolusi” karya Mayor Pamoe Rahardjo.
Kini, Tugu Hajam Wuruk bukan sekadar monumen sejarah, tetapi juga simbol semangat persatuan lintas kesatuan TNI dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Monumen ini menjadi destinasi bersejarah yang mengingatkan generasi muda akan nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme yang tumbuh dari tanah Jombang.***
Reporter: Agung Pamungkas
Editor :Hadiyin





